Connect with us

Berita Utama

Setelah Operasi ‘Hidup dan Mati’, Danjen Kopassus Dapat Amanat Khusus Lagi dari Prabowo Subianto

Published

on

Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Brigjen Iwan Setiawan dan Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto. (Foto: Instagram @ketum_gerindra/ SindoNews.com)

Jakarta – Potret pertemuan Komandan Jenderal (Danjen) Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Brigjen Iwan Setiawan dan Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto pada Kamis, 14 April 2022 dibagikan akun Instagram @ketum_gerindra.

Dikutip BantenHits.com dari SindoNews.com, pertemuan Iwan Setiawan dan Prabowo Subianto merupakan kunjungan resmi Iwan setelah resmi menjabat Danjen Kopassus di Kementerian Pertahanan, Jakarta.

Dalam kunjungannya, Brigjen Iwan menerima amanat langsung dari Menhan Prabowo untuk mengemban pengabdian dalam mempertahankan keutuhan wilayah dan menegakkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta melindungi segenap bangsa Indonesia.

Memasuki usia yang hampir 70 tahun, Menhan Prabowo berharap prajurit Kopassus ke depan tetap memegang teguh profesionalisme sebagai prajurit khusus yang modern.

“Serta dilandasi dengan loyalitas tinggi dan kecintaan terhadap rakyat dan Tanah Air,” ujar Prabowo dikutip lewat akun Instagram @ketum_gerindra, Jumat, 15 April 2022.

Perintah Khusus Prabowo

Brigjen Iwan Setiawan dan Prabowo Subianto memiliki ikatan sejarah yang panjang. Pada 1997 silam, saat Prabowo menjabat Danjen Kopassus, Prabowo pernah memerintahkan untuk digelar operasi khusus bernama Ekpedisi Kopassus-Indonesia Everest 1997.

Ekpedisi kelas dunia ini untuk merayakan hari jadi ke-45 Kopassus dan menyambut HUT Kemerdekaan RI.

Dalam operasi tersebut, mantan Kepala Staf TNI-Angkatan Darat (Kasad), Jenderal TNI Purnawirawan Pramono Edhie Wibowo menjadi komandan operasi pendakian puncak gunung tertinggi di dunia, Mount Everest, di Pegunungan Himalaya.

BACA :  Pungli PTSL, Lurah Paninggilan Terancam Non Job

Iwan Setiawan sendiri saat itu baru lulus pendidikan komando dan berpangkat Letnan Satu. Dia bersama dua rekan lainnya di Kopassus, yakni Pratu Asmujiono, Sertu Misirin berada satu tim dalam Ekspedisi Everest tersebut.

Seperti diketahui, Tim Kopassus terbagi dalam dua kelompok pendakian, yakni jalur utara dan selatan. Iwan memimpin tim di jalur selatan bersama Sertu Misirin dan Pratu Asmujiono.

Ekpedisi ini melibatkan para pendaki gunung terbaik di Indonesia dari kalangan Kopassus dan sejumlah kelompok pecinta alam di Indonesia, seperti Wanadri, Rakata, FPOK IKIP Jakarta, FPTI, dan Mapala-UI.

Pada 26 April 1997, regu dari jalur selatan berhasil mengukir sejarah untuk membawa tim menjadi tim pertama dari Indonesia dan Asia Tenggara yang menaklukkan Everest, puncak tertinggi di dunia, 8.848 meter, di kawasan Taman Nasional Sagarmatha, Himalaya.

Yang sukses melakukan summit attack adalah Pratu Asmujiono, Sertu Misirin, dan Letnan Satu Iwan Setiawan.

Hidup dan Mati di Puncak Tertinggi

Kepada tim Dispenad yang diunggah di akun YouTube resmi TNI AD belum lama ini dan dikutip SindoNews.com, Minggu, 10 April 2022, Iwan mengisahkan masa-masa saat menjalani Ekspedisi Everest itu.

Menurut Iwan, dirinya pernah berada di posisi antara hidup dan mati. Kekuatan doa dan tekad sekuat bajalah yang akhirnya membawa pria kelahiran Bandung ini mengukir sejarah gilang-gemilang pada 1997.

BACA :  PMII Staisman Pandeglang Galang Dana untuk Korban Gempa Aceh

“Alhamdulillah, saya menjadi salah satu perwira Akmil yang lolos dan lulus untuk ikut ekspedisi pendakian ini,” kata Iwan memulai kisahnya.

Iwan sadar terlibat Ekspedisi Everest sama dengan bertaruh nyawa. Fakta mencatat tidak semua orang yang mencoba menggapai puncak tertinggi dunia itu sukses.

Bahkan mantan Danpusdikpassus ini mengibaratkan dari 100 pendaki yang naik ke Atap Dunia tersebut kemungkinan hanya 10 yang berhasil.

“Dari 10 orang tersebut, kemungkinan tiga orang yang selamat,” ucapnya.

Ada cerita tersendiri sebelum keberangkatan ke gunung setinggi 8.884 meter dari permukaan laut itu.

Iwan meminta izin Prabowo untuk menyunting pujaan hatinya, Betty Siti Supartini. Waktu berjalan. Berbagai persiapan menuju ekpedisi itu terus dilakukan. Betty turut mengenang, keberangkatan sang suami merupakan saat-saat berat dan mendebarkan.

“Saya sudah hamil. Saya waktu itu sempat (merasa), aduh ini (bagaimana), kalau suami saya tidak kembali, anak ini tidak ada bapaknya,” tutur Betty, dalam video sama.

Tim Ekspedisi Kopassus akhirnya menginjak Nepal untuk memulai pendakian ke Himalaya. Iwan ingat betul bagaimana beratnya masa-masa awal berhadapan langsung dengan gunung es. Dia sempat jatuh sakit.

“Saya baru berjalan 100 meter muntah-muntah, kaget, karena memang tidak siap dengan cuaca dingin. Rupanya istri ikut merasakan (kalau saya sakit),” ucapnya.

BACA :  Usai Heboh Hadiah Juara Bupati Cup Rp 45-95 Ribu, Aktivis Serahkan Koin Rp 1.000 ke Dispora Pandeglang

Tentu saja tidak ada kata mundur. Sebagai satu-satunya perwira Akmil yang memimpin tim pendakian, Iwan terus menguatkan semangat.

Prajurit Komando yang pernah menjadi Danrindam Jaya ini meyakini, doa istri yang rajin berpuasa Senin-Kamis, juga doa seluruh bangsa, dirinya sembuh.

Mendaki Everest, kata dia, bak pertaruhan hidup dan mati. Perjalanan itu tak hanya sulit, tetapi mencekam.

“Bayangkan suhu minus 50 derajat Celcius. Sepanjang jalan banyak orang-orang meninggal,” tuturnya.

Pada ketinggian 8.500 meter dari permukaan laut, Iwan terjatuh kehabisan oksigen. Dalam bekapan cuaca sangat ekstrem yakni suhu minus 50 derajat Celcius di ketinggian 8.500 mdpl dengan tanah berpijak merupakan salju, Iwan limbung.

“Tanpa matras, juga tak ada sleeping bag. Saya kehabisan oksigen, antara hidup dan tidak,” tuturnya.

Dalam situasi kritis itu Iwan berdoa kepada Tuhan agar diberikan keselamatan untuk dapat menyelesaikan tugas dan kembali ke Tanah Air.

Bayang-bayang istri yang sedang hamil menumbuhkan semangatnya. Dalam kondisi yang dapat disebut titik nadir itu, Iwan tak menyerah.

Dia bangkit dan bertekad untuk mencapai puncak. Doa itu terkabul. Setapak demi setapak dia terus melangkah. Akhirnya, bersama Asmujiono dan Misrin, Iwan mencatatkan sejarah emas. Tepat 26 April 1997, mereka mengibarkan Merah Putih di puncak dunia.

“Itu sangat-sangat mengharukan, dan saya sangat-sangat, betul-betul…,” tutur Iwan tercekat.

“Saya betul-betul bersyukur. Bisa selamat di sana dan bisa kembali,” lanjutnya.

Editor: Fariz Abdullah

 

 

 



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler