Connect with us

METROPOLITAN

Belasan Tahun Aktivitas Pengerukan Pasir, Begini Pemandangan di Lingkar Selatan Cilegon

Published

on

Cilegon – Aktivitas pengerukan pasir oleh perusahaan di sepanjang Jalan Lingkar Selatan (JLS) Kota Cilegon semakin tak terkendali. Belasan tahun sudah aktivitas tersebut dilakukan, tepatnya saat dimulao pembangunan JLS oleh pemerintah daerah setempat.

BACA JUGA: Soal Pernyataan WH Terkait JLS, Iman Ariyadi: Jangan Cuma Ngomong

Wartawan Banten Hits Iyus Lesmana melaporkan bagaimana kondisi setelah belasan tahun pengerukan pasir berlangsung di sepanjang jalur menuju Kawasan Wisata Pantai Anyer tersebut.

Bukit-bukit yang semula hijau nan asri, kini berubah menjadi gersang dan berdebu. Di Keluragan Lebak Denok, Kecamatan Citangkil misalnya. Pengerukan pasir menyisakan tebing-tebing kurang lebih setinggi 30 meter. Pemandangan jalan perkampungan yang menjadi akses utam amenuju JLS juga tak kalah menyeramkan. Jalan ini diapit jurang mirip seperti jalan di film ‘Loard of The Ring’

BACA :  Jalan Penghubung Merak-Bojonegara Mulai Diujicoba

“Rata-rata, lahan yang dikeruk milik wargaa. Bisa disewa atau dibeli oleh pengusaha. Dulu di sini bukit-bukit semua, jalannya juga cuma jalan setapak. Tahun 2001 mulai dikeruk, diambil tanahnya, diambil pasirnya buat dikirim ke daerah-daerah lain,” tutur Sainah salah seorang warga, Senin ( 6/11/2017 )

Menurutnya, pasir yang dikeruk untuk kebutuhan penimbunan lahan pabrik baru.

“Kan bisa juga buat ngurug pabrik, kalau yang mesen kurang tahu, tapi biasanya dikirimnya ke luar Cilegon,” ungkapnya.

BACA JUGA: Pegiat Literasi Kecam Penambangan Pasir di JLS Kubangsari

Sainah mengaku, aktivitas pengerukan pasir sangat menggangu ketenangan warga. Pasalnya, suara yang dihasilkan dari mesin alat berat terdengar sampai ke permukiman.

BACA :  Ringkus Mohamad Irfan, Polisi Amankan Empat Paket Sabu

“Bunyi mesin alat berat (excavator) dan truk-truk pengangkut pasir kedengaran sampai ke rumah, sangat menggangu. Kalau dulu, enggk berisik kayak sekarang,” ungkapnya.

Selain itu, warga juga mengeluh soal kubangan-kubangan berukuran besar akibat dari penambangan pasir.

“Sekarang lihat saja, banyak kubangan air bekas tambang. Bahaya banget kalau anak-anak lagi main di sana,” ujar Jatna.

BACA JUGA: Berenang di Bekas Galian Pasir, Pemuda di Cisoka Tewas Tenggelam

Jatna mengaku, tidak ada perhatian yang diberikan oleh perusahaan kepada warga.

“Kayaknya emang enggak ada sama, saya belum terima,” kata Jatna kecewa.(Nda)



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler