Connect with us

Berita Terbaru

PPKM Saat Tepat Genjot Vaksinasi; Jangan Libatkan BIN karena Bukan Tupoksinya, Mending Libatkan Kader PKK dan Posyandu

Published

on

Presiden Jokowi saat meninjau pelaksanaan vaksinasi massal di Stadion Sport Center,  Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang. Tepat di sebelah kanan Jokowi, Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar. (Foto: Dok Humas Kabupaten Tangerang untuk BantenHits.com).

Jakarta – Perpanjangan PPKM seperti saat ini adalah saat yang tepat bagi Pemerintah untuk menggenjot program vaksinasi.

Pasalnya meski telah berlalu hampir satu bulan PPKM darurat diberlakukan, indikator kasus positif baru harian dan positive rate hasil testing masih tinggi.

Demikian dikatakan wakil rakyat dari Banten, Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto kepada media, Rabu, 28 Juli 2021.

Mulyanto melihat proses vaksinasi masih sangat lambat yakni rata-rata di bawah 1 juta dosis per hari dengan jangkauan 15 persen dari populasi.

BACA :  12 Rumah di Sindangresmi Terbakar di Siang Bolong, Dinsos Pandeglang Akan Beri Bantuan Rp 5 Juta

Sehingga tak heran NikkeiAsia, terkait dengan indeks recovery yang memprediksi seberapa dekat negara-negara pulih dari pandemi, menempatkan Indonesia pada peringkat ke-110 dari 120 negara.

Mulyanto minta Pemerintah libatkan kader PKK dan Posyandu Se-Indonesia untuk meningkatkan kecepatan program vaksinasi. Karena kader PKK dan Posyandu memiliki keterampilan di bidang kesehatan masyarakat dan menyebar di seluruh pelosok.

“Pemerintah jangan malah menerjunkan BIN, yang bukan tupoksinya. Biarlah BIN menjalankan tugas mencari, mengelola dan menganalisis data intelejen. Jangan dibebani dengan tugas vaksinasi,” tegas Mulyanto.

Sebenarnya, kata Mulyanto, lambatnya vaksinasi bukan karena ketiadaan vaksin tapi karena distribusi dan operasionalisasi di lapangan. Vaksin yang terserap baru 37 persen dari total. Selain itu ditengarai vaksin Sinovac masih numpuk berupa bahan baku di BUMN Bio Farma. Sehingga banyak daerah yang mengeluhkan kehabisan vaksin.

BACA :  Tanto Minta Program di Setiap OPD Strategis dan Prioritas

Dari jumlah dosis vaksin yang diimpor, jelas Mulyanto, sebagaimana disampaikan Pemerintah, 27 Juli 2021, total sebanyak 173.306.740 dosis, baru sebanyak 64.13 juta yang telah digunakan untuk vaksinasi baik dosis kesatu maupun kedua, atau baru sekitar 37 persen dari dosis vaksin yang ada. Dengan demikian stok vaksin yang masih tersedia sebesar 67 persen.

Untuk diketahui, menurut keterangan Pemerintah, sampai tanggal 26 Juli 2021, jumlah orang yang telah divaksin dosis pertama sebanyak 45.5 juta orang atau 21.9 persen dari target. Sementara mereka yang telah menerima dosis lengkap sebanyak 18.6 juta orang atau sebesar 8.9 persen dari target.

“Bila berdasarkan prosentase populasi sebagaimana dirilis Our World in Data, maka Indonesia baru memvaksinasi penduduknya sebesar 15 persen dari populasi. Kecepatan vaksinasi kita rata-rata masih di bawah 1 juta dosis per hari,” ungkap Mulyanto.

BACA :  Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Lebak Ditahan KPK

Sementara program vaksinasi di Malaysia dan Thailand masing-masing sudah mencapai 37.5 persen dan 17.4 persen populasi. Indonesia hanya sedikit lebih baik dibanding Vietnam.

Editor: Fariz Abdullah



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler