Connect with us

METROPOLITAN

Nasib Gedung Shelter Tsunami di Labuan; Pembangunannya Dikroupsi, Kini Jadi Tempat Mesum Muda-mudi

Published

on

Shelter Tsunami Labuan

Sejumlah angkot mangkal di depan gedung shelter tsunami di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang. (BantenHits.com/ Engkos Kosasih)

Pandeglang – Gedung shelter tsunami atau tempat evakuasi sementara yang terletak di Kampung Sawah, Desa/ Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, menyimpan cerita tragis; mulai dari pembangunannya yang dikorupsi hingga nasibnya kini menjadi tempat mesum muda-mudi.

Wartawan BantenHits.com Engkos Kosasih merekam perjalanan Gedung Shelter Tsunami yang sejatinya keberadaannya akan difungsikan sebagai bangunan penyelamat gempa dan tsunami.

Proyek shelter tsunami merupakan proyek nasional dari Satker Penataan Bangunan dan Lingkungan (PBL) Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU). Proyek ini dimulai tahun 2014 dengan nilai proyek Rp 18,23 miliar. Proyek ini dilaksanakan oleh PT Tidar Sejahtera (TS).

Pada Senin, 26 Juni 2018, Direktur PT TS Takwin Ali Muchtar dinyatakan bersalah dalam kasus korupsi proyek pembangunan shelter tsunami ini. Majelis hakim Pengadilan Tipikor Serang menjatuhkan vonis 1,3 tahun penjara dan denda Rp50 juta rupiah kepada Takwin.

BACA JUGA: Korupsi Shelter Tsunami Labuan, Direktur PT tidar Sejahtera Dihukum 1,3 Tahun Penjara

Selain Takwin, hakim juga menghukum dua terdakwa lainnya yakni Manajer PT TS Wiyarso Joko Pranolo dan PPK Kementerian Pekerjaan Umum Ahmad Gunawan dengan vonis yang sama.

Putusan yang dibacakan hakim ketua Sumantono ini lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut terdakwa 1 tahun 10 bulan.

Bangunan Gagal Konstruksi

Saat melakukan penahanan terhadap Takwin Ali Muchtar, Kejari Serang melalui Kasi Pidsus Agustinus Olav menyatakan, hasil audit investigatif oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menilai proyek dikualifikasikan sebagai kegagalan bangunan.

“Jadi total lost. Bangunan tidak dapat digunakan,” kata Olav.

Hasil audit investigatif BPK juga dikuatkan pemeriksaan ahli yang menyatakan, hasil pekerjaan proyek tersebut dinyatakan tidak sesuai dengan spesifikasi. Bahkan hasil proyek tersebut tidak bisa digunakan sebagai bangunan penyelamat gempa dan tsunami sehingga dinyatakan gagal konstruksi.

Penuh Coretan dan Jadi Tempat Mesum

Sejak selesai dibangun tahun 2014 gedung shelter tsunami ini tak pernah dimanfaatkan sama sekali. Saat ini gedung dipenuhi coretan. Yang lebih mengkhawatirkan, warga sekitar melaporkan hamir setiap hari gedung berlantai 3 dengan luas 2. 456 meter persegi itu malah dijadikan tempat mesum muda-mudi. Warga sekitar yang merasa resah dengan keberadaannya sering muda-mudi tersebut.

“Setelah beres dibangun sampai saat ini dipakai tempat maskiat anak-anak ABG (anak baru gede),” kata Ateng salah seorang warga saat ditemui BantenHits.com, Kamis, 8 November 2018.

Ateng mengaku sudah sering mengadukan kondisi tersebut ke pemerintah setempat, namun aduannya tersebut belum didengar dengan alasan belum ada serah terima penggunaan gedung.

Bupati Pandeglang Irna Narulita mengaku akan segera menggelar rapat dengan beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk membahas shelter tsunami. Ia juga meminta restu dari warga agar shelter tsunami tersebut dapat digunakan untuk tempat palkir dan pedagang kaki lima (PKL).

“Nanti saya mau rapat masalah perparkiran dan PKL. Warga setuju tidak kalau shalter tsunami dijadikan tempat untuk mereka, agar Pasar Labuan tidak semerawut,” kata Irna.(Rus)

Trending