Connect with us

ESSAI

Salah Gaul

Published

on

Dalam pengalaman bergaul, saya juga teman-teman yang sepergaulan dengan saya, sama-sama memiliki semacam kesepakatan yang tak pernah diverbalkan. Kesepakatan yang tak diverbalkan itu menjelma dalam toleransi, saling pengertian, solidaritas, dan rasa senasib sepenanggungan.

Maka, pergaulan kami seperti tubuh yang terdiri masing-masing anggota badan. Sejatinya satu tubuh, jika ada satu anggota tubuh terluka, maka otomatis seluruh badan akan merasakan sakit. Dan untuk turut merasakan sakit itu, tak perlu si pemilik anggota tubuh yang sedang terluka menyatakan secara verbal kesakitannya.

Hal yang paling penting pula, dalam rumus baku bergaul (kami), berbuat baik untuk sesama di antara kami adalah keharusan. Kami tak perlu harus menghitung kebaikan seseorang yang akan kami perlakukan baik.

Belakangan, saya tersentak. Ketika saya memasuki sebuah komunitas di luar teman sepergaulan saya, ternyata pakem bergaul yang sebelumnya saya yakini, sama sekali tak berlaku di komunitas itu.

BACA :  Akal Bulus dan Strategi Kuda Troya Yunani

Meski judulnya komunitas, kelompok, tempat berkumpul banyak orang, ternyata mereka tak merasa satu tubuh. Bahkan tak jarang, diam-diam anggota tubuh yang satu saling melukai anggota tubuh lainnya. Yang lebih mengerikan, tak ada kesakitan kolektif mereka rasakan ketika ada satu anggota tubuh terluka.

“Pergaulan macam apa ini?” Tanya saya kepada salah seorang kawan. Sang kawan menjawab enteng. “Bergaul dengan mengedepankan toleransi, saling pengertian, solidaritas, dan senasib sepenanggungan adalah bentuk bergaul di kelompok yang mengedepankan nilai kemanusiaan,” katanya.

Masih menurut kawan saya itu, adalah hal yang salah mengedepankan nilai-nilai tadi dalam sebuah kelompok yang tak pernah mengedepankan nilai kemanusiaan. Jadi, tidak toleran, tidak saling pengertian, tidak solider, dan tidak satu rasa senasib sepenanggungan adalah hal yang lumrah dalam kelompok bar-bar.

BACA :  Berbagi Kerelaan

“Wah, kalo gitu saya yang salah bergaul dong,” kata saya sambil mengerutkan dahi.

Sebenarnya, sebelum kawan saya itu memberi penjelasan, saya–yang terlanjur heran dengan sikap kawan-kawan yang saya sebut dalam kelompok yang tak merasa satu tubuh itu–sudah menuliskan status dalam sebuah jejaring sosial. Dan sekadar untuk diketahui, jejaring sosial buat saya yang sedikit ekspresif ini, sangat membantu sekali.

Waktu itu saya menulis, “Tatap muka di antara kalian adalah semu, jika di antara kalian tak bisa saling menyelami hati kalian masing-masing. Jika untuk merasakan kesakitan di antara sesama kalian, masih butuh bahasa verbal dari yang sedang merasa kesakitan.”

Belakangan, saya menyadari. Mestinya saya tak perlu terlalu ekspresif dengan menuliskan status protes untuk kelompok yang tak bisa saya mengerti dalam cara bergaulnya itu. Seperti yang kawan saya bilang, saya tak bisa memaksakan kelompok itu untuk toleran, untuk saling pengertian, untuk solider, untuk senasib sepenangungan jika mereka adalah kelompok yang menyatakan dirinya bar-bar.

BACA :  Manusia Modern, Kecemasan, dan Kapitalisme

Lama setelah perbincangan itu, tiba-tiba seseorang dalam kelompok yang tak bisa saya mengerti tadi, menemui saya. Dia menyatakan heran, karena saya tak pernah terlihat lagi dalam pergaulan mereka. Sebelum dia bertanya, saya kemudian berkata, “Setelah dipikir-pikir, ternyata saya tak pandai bergaul. Dari pada saya salah dalam bergaul nanti, lebih baik saya berhenti untuk bergaul.”



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler