Connect with us

METROPOLITAN

Keluarga Masyarakat Madura Bakal Bantu Pemerintah Bangun Tanah Jawara

Published

on

Jajaran Pengurus IKAMA Se Provinsi Banten Saat Menggelar Jumpa Pers di Aula Islamic Center Kota Cilegon. (BantenHits.com/Iyus Lesmana).

Cilegon- Masyarakat Madura yang berada di Provinsi Banten membentuk Ikatan Keluarga Madura atau IKAMA. Daftar pengurus periode 2019-2024 telah disiapkan agar perkumpulan keluarga masyarakat Madura ini maksimal dalam membantu pemerintah untuk membangun tanah jawara.

Pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) IKAMA di delapan Kabupaten/Kota se-Provinsi Banten akan dilaksanakan secara serentak di Aula Islamic Center Kota Cilegon, Kelurahan Jombang Wetan, Kecamatan Jombang Kota Cilegon, Minggu, 22 Juli 2019.

Sekretaris DPW IKAMA Provinsi Banten, Syahril Fauzi mengatakan selain guna menjalin tali silaturahmi sesama warga Madura yang tersebar di Provinsi Banten, kegiatan pembentukan DPC IKAMA  tersebut juga untuk mengajak seluruh warga Madura secara bersama-sama untuk membangun Provinsi Banten.

“Jadi, kalau kita kompak itu lebih enak membangunnya Banten, itu  bagian bentuk  kontribusi kami orang-orang Madura yang ada di Provinsi Banten,”ujar Syahril Fauzi, saat menggelar konfrensi pers di Aula Islamic Center Cilegon, Sabtu, 20 Juli 2019.

Syahril mengungkapkan, kurang lebih terdapat 300 ribu warga Madura yang tinggal di Provinsi Banten, dari jumlah tersebut diketahui merupakan berbagai lintas profesi.

“IKAMA ini meliputi dari lintas profesi mulai dari tukang besi, gigi, toko sembako, pedagang sate hingga nasi bebek. Dari usaha itulah nanti kita bisa menambah pendapatan asli daerah (PAD)  dari sektor pajak. Nah itu yang menjadi komitmen awal kita untuk membangun Banten secara bersama-sama,”ungkapnya.

Ditempat yang sama Ketua DPW IKAMA Provinsi Banten, Abdul Hannan Busmar menambahkan, dengan adanya IKAMA di Provinsi Banten pihaknya diharapkan dapat menghilangkan kesan miring terhadap orang Madura ditambah pada jaman modern seperti saat ini harus taat kepada aturan pemerintah tidak ada istilah premanisme.

“Di zaman serba modern ini sudah tidak ada lagi kesan miring terhadap orang Madura. Intinya Madura itu sekarang dari disisi SDM-nya, keilmuannya banyak juga. Jadi kesan miring atau negatif terhadap orang Madura sudah hampir terkikis dan  nyaris hilang,”tuturnya.

“Jadi sekarang itu sudah tidak ada lagi orang bicara golok atau cerurit, tapi sekarang bagaimana caranya betul-betul bersaudara dengan aturan yang ditentukan oleh pemerintah. Tidak ada lagi yang sok-sokan dan ego-egoan,”imbuhnya.

Editor: Fariz Abdullah

Trending