Connect with us

BABAD BANTEN

Luruskan Tafsir Sejarah yang Keliru soal Banten-Palembang di Masa Lalu, Guru Sejarah di Banten Disambut Tradisi Ngobeng-Ngidang Kesultanan Palembang

Published

on

Rombongan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Banten berfoto di salah satu objek bersejarah di Palembang. (Dok.AGSI Banten)

Palembang – Beberapa catatan sejarah menyebutkan, Banten-Palembang di masa kerajaan memiliki riwayat konflik yang cukup panjang.

Ini tentu berbanding terbalik dengan kondisi Banten dengan Lampung–yang masih berada satu pulau dengan Palembang– dimana Lampung diposisikan ibarat saudara kandung bagi Banten.

Dalam makalah Husin Sayuti berjudul “Hubungan Lampung dan Banten dalam Perspektif Sejarah” yang dibukukan dalam kumpulan makalah diskusi berjudul “Banten Kota Pelabuhan Jalan Sutera” terungkap, hingga kini jejak persaudaraan Banten-Lampung masih bisa dilihat dari penamaan sejumlah tempat di Lampung.

Jika kita berkunjung ke Lampung, ada pengetahuan yang lazim diketahui oleh masyarakat Lampung. Di Lampung, ketika kita menemukan kuburan-kuburan kuno dan keramat, maka pada umumnya orang akan menyebut kuburan itu sebagai Kiai Banten. Bahkan di Kedaton, sebuah bukit memiliki sebutan Gunung Banten karena di lereng bukti tersebut terdapat sebuah kuburan yang diyakini seorang kiai asal Banten.

BACA JUGA: Sejarah Saudara Kandung dalam Hubungan Banten-Lampung

“Khusus mengenai pertalian sejarah antara Palembang dan Banten, terutama masa (kerajaan) Maulana Muhammad yang pernah tercatat berkonflik dengan Palembang, kami berusaha memahami kondisi sosial politik masa itu dan berusaha untuk meluruskan penafsiran yan keliru tentang konflik tersebut sehingga bisa mengambil hikmah positif untuk generasi saat ini,” kata Sekretaris Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Banten Rohmat, Minggu, 15 Desember 2019, membuka perbincangan dengan BantenHits.com seputar kunjungan kesejarahan AGSI ke Kesultanan Palembang.

Foto: Dok. AGSI Banten.

Ketua AGSI Banten Abdul Somad menuturkan, acara lawatan sejarah ini dimulai dari Serang, Kamis, 12 Desember 2019 sekitar pukul 16.00 WIB dengan menggunakan transportasi darat.

BACA :  Kota “Benteng” Tangerang dalam Lipatan Sejarah (Habis)

“Perjalanan yang cukup mengasyikan dengan menyeberangi Merak menuju Bakuhueni ditempuh selama 2 jam dan sampai di Palembang kemudian sekitar jam 02.30 dinihari. Total perjalanan ditempuh kurang lebih sekitar 13 jam. Sesampainya di Palembang, kemudian kita sejenak istirahat di masjid bersejarah yaitu masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo,” terang Abdul Somad.

Menurut Abdul Somad, lawatan sejarah yang dilakukan AGSI Banten selama di Palembang dilakukan ke beberapa titik lokasi bersejarah yang ada di Palembang seperti Bukit Si Guntang, yang menjadi ikon dan dianggap sakral bagi masyarakat Melayu.

Selain itu, tempat lainnya yang dikunjungi antara lain Jembatan Ampera, Museum Negeri Sumatera Selatan, Kampung Kapitan, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Pulau Kemaro serta Rumah Adat Kesultanan Palembang.

BACA :  Pulau Panaitan; Sorganya Peselancar dan Penyelam yang Kaya Peninggalan Sejarah

Rohmat menambahkan, kunjungan dilakukan salah satunya dalam rangka mengungkap pertalian Banten-Palembang. Dalam kunjungan kali ini, rombongan mendapatkan informasi yang lebih luas mengenai sejarah Palembang, mulai periode Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Palembang dan Kesultanan Palembang Darusalam.

“Salah satunya itu (mengungkap pertalian Banten-Palembang). Sebelumnya kita pernah ke Malaka tahun 2017. Di sana kita mendapat informasi bahwa orang Melayu itu berasal dari Bukit Seguntang yang ada di Palembang. Kedua ingin lebih banyak tahu mengenai sejarah terbesar kerajaan maritim Sriwijaya,” jelas Rohmat.

Disambut Tradisi Kerajaan

Abdul Somad melanjutkan, salah satu yang membuat rombongan AGSI Banten terkesan selama kunjungan yaitu saat mengunjungi Rumah Adat Kesultanan Palembang. Tim rombongan AGSI Provinsi Banten diterima dengan sangat ramah oleh pihak Kesultanan Palembang. 

Foto: Dok. AGSI Banten.

Acara di Rumah Adat Kesultanan Palembang tersebut, ungkap Abdul Somad, dibuka dengan kata sambutan dari Ketua AGSI Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel)  Merry Hamraeny, S.Pd, M.M , selanjutnya sambutan dan materi singkat dari YM Sultan Mahmud Badaruddin IV Jayo Wikrama R.M. Fauwaz Diradja. S.H. M.Kn yang menerangkan seputar Kesultanan Palembang Darussalam, kemudian ditutupi dengan kegiatan penyampaian materi dari sejarawan Palembang Kemas A.R. Panji.

BACA :  Hobi Selfie? Dijamin Rugi kalau Enggak ke Gunung Pinang

“(Di situ dijelaskan) seputar teknik menghidangkan makanan ala Budayawan Palembang yang dikenal dengan  dengan kegiatan istilah ‘Ngidang’ dan ‘Ngobeng’, ucap Abdul Somad.

“Dari kunjungan ini kami bisa mempelajari dan mengerti tentang tiga fase sejarah pemerintahan di Palembang, mulai dari Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Palembang dan Kesultanan Palembang Darussalam,” sambungnya.

Terkait tradisi ngobeng-ngidang, Rohmat menuturkan, tradisi tersebut terkait teknik menghidangkan makanan ala Kesultanan Palembang yang mengajarkan bagaimana menghormati dan memuliakan tamu dalam budaya Melayu.

Rohmat juga mengaku, sangat bahagia dapat diterima di Rumah Adat Kesultanan Palembang, karena rombongan mendapat pelajaran tentang kearifan lokal dari kehidupan tradisi Kesultanan Palembang.

Lawatan kesejarahan AGSI Banten ke Palembang ini tentu masih butuh elaborasi pada tahap selanjutnya, supaya mampu mengubah stigma konflik Banten-Palembang di masa kerajaan, menjadi pertalian persaudaraan. Diharapkan juga, upaya pelurusan persepsi sejarah ini mampu mempererat hubungan Banten-Palembang di era kekinian. Semoga.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler