Connect with us

Berita Terbaru

Jadi Satu-satunya Anggota F-Gerindra yang Tandatangani Interpelasi Bank Banten, Politisi Ini Sanjung Partainya yang Super Demokratis

Published

on

Warga Banten yang menjadi nasabah Bank Banten ramai-ramai menarik uang di tabungan mereka. Antrean tampak mengular di Kantor Bank Banten Cabang Serang, Kamis, 23 April 2020. Antrean terlihat mengabaikan protokol Covid-19. (BantenHits.com/ Mahyadi)

Serang – Anggota DPRD Banten dari Fraksi Gerindra, Ade Hidayat, membuat kejutan politik dengan menandatangani dukungan penggunaan hak interpelasi kepada Gubernur Banten, Wahidin Halim terkait Bank Banten, Selasa, 2 Juni 2020.

Ade Hidayat menjadi satu-satunya anggota dari Fraksi Gerindra yang menandatangani dukungan penggunaan hak interpelasi yang digagas Fraksi PDIP ini.

Keputusan Ade pun membuat riuh suasana politik di tempat para wakil rakyat ini berkantor. Ade pun menanggapi santai pro kontra pengajuan interpelasi Gubernur Banten tentang pemindahan rekening kas umum daerah (RKUD) ini.

Anggota DPRD Banten dari Kabupaten Lebak ini mengatakan, interpelasi merupakan hak melekat pada setiap Anggota DPRD Banten yang telah diatur dalam tata tertib DPRD Banten dan dilindungi oleh undang-undang. 

BACA :  Kaki Pemotor Hancur Dilindas Truk di Sukmajaya Cilegon

“Saya selaku salah satu yang menandatangani intepelasi menghormati perbedaan dengan teman-teman terkait sudut pandang hak interpelasi.  Hak ini merupakan hak bertanya Anggota DPRD Banten kepada gubernur atas kebijakan yang diambilnya, jadi ini kan hak biasa saja yang dilindungi undang-undang dan diatur secara rinci dalam tata tertib,” katanya melalui keterangan tertulis kepada BantenHits.com, Kamis 4 Juni 2020.

Ia menegaskan, hak interpelasi yang diajukan oleh sejumlah Anggota DPRD Banten murni untuk meminta penjelasan kepada Gubernur Banten tentang pemindahan RKUD berikut dampak yang ditimbulkannya. Sehingga kebijakan itu dapat dipahami dengan jelas dan dipahami publik. 

“Saya pikir biasa saja dan bukan untuk maksud lain. Jadi saya pikir tidak membut bising dan mubazir.  Sebab kan pasca dipindahkannya RKUD ke BJB kan menyisakan persoalan, seperti tidak bisanya melakukan dana bagi hasil kepda kabupaten/kota, pelaksanaan JPS yang belum berjalan dengan baik, ini kan patut dipertanyakaan. Kita sebagai anggota dewan yang refresentasi dari masyarakat kan harus bertanya. Masa kita harus diam aja,” katanya. 

BACA :  Kerugian akibat Angin Kencang di Pandeglang Ditaksir Rp200 Juta

Meski Gubernur Banten telah menjelaskan beberapa persoalan menyangkut RKUD dalan rapat konsultasi, kata dia,  rapat konsultasi dan interpelasi memiliki perbedaan yang mendasar sebagaimana dijelaskan dalam tata tertib.

“Konsultasi kan bentuk rapat yang diberikan sebagai fasilitasi kepada pimpinan. Kalau interpelasi itu kan melekat pda anggota dan mengikat,” ucapnya. 

Faktanya, pasca rapat konsultasi Gubernur Banten menyurati DPRD Banten akan pinjam uang Rp 800 miliar ke BJB.

“Ini juga kan patut kita tanya, kenapa harus pinjam, kenapa tanpa bunga, kenapa pinjamnya ke BJB, apakah memang Banten lagi enggak punya uang,  bagaimana sebanarnya kondisi keuangan kita, bagaimana proyeksi kedepan keuangan kita setelah pemindahkan RKUD dan Covid-19. Ini kan hal penting yang memerlukan penjelasan gubernur.  Sehingga kalau  kita tanya dalam ruang interpelasi kan hasilnya mengikat menjadi sebuah kebijakan, seperti yang dijelaskan dalam tartib,” ungkapnya. 

BACA :  Arus Kuat, Kapal MV Centaurus Dream Kandas di Perairan Ciwandan

Ia kembali menegaskan, interpelasi langkah biasa yang dilakukan anggota DPRD kepada kepala daerah. Ia tak ingin interpelasi dimaknai untuk tujuan yang lain.

“Toh saya tetap kok masih mendukung kebijakan gubernur yang di rasa masih baik dan berjalan baik. Jadi intinya ya saya hanya menjalankn fungsi saya sebagai anggota DPRD yang dilindungi undang-undang,” ujarnya. 

Hak interpelasi diajukannya sebagai bentuk wujud pertanggungjawaban dirinya kepada masyarakat. Dia sendiri telah melaporkan langkah tersebut kepada partai.

“Toh partai saya juga biasa saja dan memahaminya bahwa itu adalah hak anggota. Partai Gerindra itu demokratis, jika dirasa perlu oleh anggotanya untuk bertanya lebih kepada gubernur dan dirasa masyarakat butuh itu, partai kami tidak mempersoalkan anggotanya. Jadi Gerindra itu demokratis sekali,” tegasnya. 

Editor: Darussalam Jagad Syahdana



Terpopuler