Connect with us

Berita Terbaru

Kisah Para Guru di Kab. Tangerang Berjuang Ekstra Ajari Anak Berkebutuhan Khusus secara Daring

Published

on

 Salah Satu Guru di SKH Negeri 01 Kabupaten Tangerang Saat BDR Secara Daring dengan Siswa ABK. (Bantenhits/Rikhi Ferdian)

Tangerang- Menjadi seorang guru tidaklah mudah. Ya, mereka dituntut untuk sabar, berinovasi dan cerdas dalam mendidik siswa.

Terlebih di masa Pandemi Covid-19 ini. Proses belajar secara daring membuat pahlawan tanpa tanda jasa ini harus bekerja ekstra apalagi dalam mengajari anak berkebutuhan khusus (ABK).

Seperti halnya para guru  di Sekolah Khusus (SKH) Negeri 01 Kabupaten Tangerang. Mereka harus berinovasi secara maksimal dalam memberikan pelajaran. 

Kepala sekolah Khusus (SKH) Negeri 01 Kabupaten Tangerang Ngatini menerangkan setiap guru diwajibkan untuk menyiapkan alat peraga yang dibuat sendiri untuk bahan pembelajaran tujuannya agar para murid yang merupakan ABK tersebut dapat menyerap materi dengan baik. 

BACA :  Selama Puasa hanya Menyediakan Minuman, Wanita, dan Kamar Saja...

“Pentingnya inovasi dan kreasi ini dimunculkan agar pembelajaran jarak jauh yang diikuti para siswa dan siswi bisa nyaman dan diterima, terlebih setiap anak ada tantangannya sendiri karena ketunaannya kan berbeda-beda,” Tutur Ngatini kepada BantenHits.com, Selasa 23 Februari 2021. 

Ia menerangkan, terdapat 335 siswa berkebutuhan khusus laki-laki dan perempuan di Skh Negeri 01 Kabupaten Tangerang, yang diampu oleh 98 guru dengan jenis ketunaan mulai dari Tuna Netra, Tuna Runggu, Tuna Grahita, Tuna Daksa, Tuna Ganda, dan Autis. 

Kata dia, proses Belajar Dari Rumah (BDR) terhadap siswa siswi ABK ini dilakukan setiap hari (Senin-Jumat) menggunakan aplikasi zoom, google meet, atau pun video call. 

BACA :  Mencari Keringanan Biaya Berobat, Ibu Miskin di Pandeglang Gendong Balita Kritis

“Tentu sangat sulit, khususnya untuk anak autis dan grahita, makanya pembelajaran daring dilakukan setelah ada kesepakatan antara guru dan orang tua siswa, satu guru mengajar 3-5 siswa paling lama pembelajaran berlangsung selama satu jam,” tuturnya. 

Menurutnya, kendala yang terjadi untuk proses BDR yakni  menentukan waktu pembelajaran, bahkan terkadang proses pembelajaran dilakukan pada malam hari menunggu orang tua siswa selesai beraktivitas. 

Tak hanya itu, proses BDR terhadap para ABK ini juga kadang terkendala oleh sinyal serta kondisi siswa yang sedang marah atau sulit untuk diatur sehingga tidak bisa berkonsentrasi.

“Jadi terkadang para guru terpaksa harus mengulang pelajaran,” imbuhnya.

Kendati demikian, Skh Negeri 01 Kabupaten Tangerang tidak menekankan pembelajaran akademik bagi para siswanya, akan tetapi lebih kepada melatih kemandirian secara sosial maupun pribadi.

BACA :  Imala Berharap Pendidikan Antinarkoba Masuk Kurikulum

“Bagaimana peserta didik bisa membuang sampah pada tempatnya, menyiram tanaman, membuat minuman sendiri, mencuci piring. Itu yang tidak bisa terpisahkan dari pembelajaran ini,” jelasnya.

“Oleh karena itu guru harus banyak berinovasi, paling tidak harus mempunyai alat peraga yang disukai anak-anak,” tambahnya.

Editor: Fariz Abdullah



Pria kelahiran Jakarta ini memiliki latar belakang sarjana pendidikan. Ketertarikan pada dunia literasi membuat Rikhi--begitu dia biasa dipanggil--memilih jalan hidup sebagai jurnalis.

Terpopuler