Connect with us

OPINI

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Sudah Gila Dituduh PKI

Published

on

GMNI Cabang Serang

Kabid Ideolodi dan Politik GMNI Cabang Serang Maskur Rido.(Istimewa)

Fenomena orang tidak waras yang melakukan persekusi terhadap ulama menjadi lebih seksi dengan embel-embel antek Partai Komunis Indonesia (PKI) di belakangnya.

Si gila akhirnya harus menerima dan pasrah dianggap sebagai antek PKI. Sungguh malang nasib si gila, sudah tak waras harus dituduh komunis pula. Seperti kata pepatah, “sudah jatuh tertimpa tangga”.

Itulah yang terjadi saat ini, setelah beberapa peristiwa penganiayaan oleh orang tidak waras terhadap pemuka agama di Jawa Barat, lalu dengan begitu cepat wacana PKI pun muncul ke permukaan.

Wacana bahwa antek PKI yang mulai bangkit dan mengincar ulama pun menyebar dengan cepat. Di Banten sendiri sudah dua orang gila harus menerima amukan massa karena dituduh PKI, sehingga aparat yang berwenang harus segera mengantisipasinya dengan melakukan razia orang gila agar tidak terulang kejadian main hakim sendiri terhadap orang tidak waras. Sekali lagi, sungguh malang si gila.

Partai terlarang yang pernah ada di Indonesia itu memang menjadi momok menakutkan. Terlebih sejarah membentuk PKI sebagai sosok yang mengerikan dan terkenal sadis. Hal tersebut dapat disaksikan dalam film G30 S PKI yang saat ini mulai tayang kembali di televisi.

Meskipun dalam acara milik salah satu tv swasta, anak Aidit pernah membantah adegan kekerasan yang menurutnya hanya berupa imajinasi sutradara semata, namun hal tersebut sama sekali tidak merubah mindset bangsa Indonesia terhadap partai berlogo palu arit.

Sebetulnya, beberapa akademisi sudah sering mengatakan bahwa parpol yang pernah hidup di masa orde lama tersebut kemungkinan besarnya tidak akan kembali hidup dan besar. Meskipun secara ideologi “Komunisme” masih ada yang mempelajarinya.

Selain itu sejumlah pengamat juga melihat fenomena kemunculan isu PKI yang selalu tepat di tahun politik hanya merupakan alat politik yang di goreng oleh kekuatan politik lainnya.

Lalu, mengapa dikatakan ideologi komunisme masih ada yang mempelajarinya? Hal tersebut tentu bukan berarti bahwa pengikut komunisme masih banyak di Indonesia.

Kita tentu harus terlebih dahulu mengetahui apa itu ideologi agar bisa mengerti mengapa masih ada orang yang membaca dan memelajarinya. Hal tersebut juga untuk bisa membedakan antara ideologi dengan teologi sehingga tidak terjadi reaksi yang over saat mendengar komunisme.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terdapat tiga makna saat kita mencari arti dari kata ideologi. Pertama, ideologi adalah kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat yang memberikan arah untuk kelangsungan hidup. Kedua, ideologi bermakna cara berpikir seseorang atau golongan, dan yang terakhir ialah paham, teori dan tujuan yang merupakan satu program sosial politik.

Sedangkan teologi dalam KBBI hanya ada satu makna yakni pengetahuan ketuhanan ( mengenai sifat Allah, dasar kepercayaan Allah dan agama, terutama berdasar pada kitab suci).

Artinya yang disebut bahwa komunisme masih ada yang mempelajarinya hanya merupakan pada sisi ideologi atau sisi literasi belaka, atau penulis mendeskripsikan ideologi sebagai suatu paham hasil pemikiran manusia yang merupakan teori sosial politik yang bisa dibaca dibuku-buku, bukan berupa teologi yang membentuk seseorang menjadi atheis (tak beragama).

Lantas kenapa komunis selalu disamakan dengan atheis, hal tersebut karena faktor filsafat “materialisme” yang membangun ideologi hasil pemikiran Karl Marx tersebut.

Filsafat materialisme dianggap sebagai suatu aliran filsafat yang membentuk suatu logika manusia tidak mempercayai akan adanya hal-hal yang gaib atau tidak nyata, sehingga pada akhirnya orang berasumsi bahwa filsafat materialisme adalah filsafat anti Tuhan.

Marx sendiri menjelaskan filsafat materialisme nya karena sesuatu yang nyata hanya materi, di dalam kehidupan masyarakat sesuatu yang nyata adalah masyarakat yang bekerja sehingga menurut Marx, manusia bekerja maka dia ada (hidup). ‎Anggapan bahwa komunis adalah atheis bukan hanya dipercayai oleh orang awam saja, bahkan S1,S2 atau bahkan profesor sekalipun.

Begitu rumit untuk mempelajari suatu ideologi, selain harus memahami filsafat yang membangunnya tentu juga harus tahu tujuan mengapa ideologi tersebut dibentuk.

Ideologi komunis sendiri menurut Marx diciptakan untuk melawan hegemoni kapitalis yang membuat masyarakat menjadi individualis dan liberal. Sedangkan ideologi komunis ialah untuk membentuk suatu masyarakat yang berkimunitas (bergotong-royong).

Sehingga saat orang gila dituduh sebagai antek PKI tentu saja menjadi hal yang monohok, bagaimana mungkin seorang yang tidak waras mampu mempelajari filsafat yang begitu rumit dan mempercayainya sebagai ideologi yang bisa digunakan untuk kehidupan sosial politiknya.

Dikatakan beberapa tokoh, ideologi lahir atas dasar untuk mengkritisi ideologi sebelumnya. Sama halnya dengan ideologi milik Karl Marx yang lahir untuk mengkritisi ideologi sebelumnya yang dianggap terlalu utopis (mengawang awang) sehingga digunakanlah filsafat materialisme agar pemikiran tidak mengawang awang saat diaplikasikan.

Terakhir penulis ingin mengutip kata-kata dari tokoh Nazi yang juga merupakan satu partai terlarang di Jerman, Adolf Hitler dalam otobiografinya, “Jika kebohongan diulangi terus menerus, maka pikiran manusia akan menerimanya, kebohongan diterimanya sebagai kebenaran”

Penulis: Maskur Rido
Kabid Ideologi dan Politik BMNI Cabang Serang

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ten − eight =

Trending