Connect with us

SENI & BUDAYA

Yuk, Ajak Anak ke Museum Benteng Heritage!

Published

on

Museum Benteng Heritage berada di Jalan Cilame, Kawasan Pasar Lama, Kota Tangerang. Tempat ini agak sulit ditemui karena lokasinya menjorok dari jalan utama, serta berada di dalam kawasan pasar. Selain itu, kurangnya rambu-rambu penunjuk yang mengarah ke Museum Benteng Heritage membuat pengunjung agak kesulitan menemukan lokasinya.

Sebagai patokan, jika Anda memarkirkan kendaraan di depan Pendopo Bupati Tangerang, kemudian dari Tugu Jam Anda menghadap ke kawasan Pasar Lama, maka di sebelah kanan Anda terlihat ada jalan kecil yang menembus kawasan pasar. Tempuhlah jalan itu, sekitar 500 meter dari titik awal Anda tadi Museum Benteng Heritage akan ditemui.

Museum Benteng Heritage menjadi bukti keberadaan perkembangan peradaban Tionghoa di Tangerang. Museum pribadi milik Udaya Halim ini merupakan hasil restorasi dari sebuah bangunan tua berarsitektur tradisional Tionghoa yang diduga dibangun pada sekitar abad ke-17.

Museum Benteng Heritage bisa dikunjungi mulai pukul 13.00 sampai 18.00. Di sini pengunjung akan menjalani tour selama 45 menit dengan ditemani pemandu. Setiap rombongan dibatasi sampai 20 peserta dengan harga tarif untuk umum Rp 20.000, pelajar Rp 10.000, mahasiswa Rp 15.000, foreigner Rp 50.000, dan heritage walk Rp 50.000 untuk rombongan lebih dari 10 orang.    

BACA :  Disbudpar Pemprov Banten Akan Daftarkan Hak Kekayaan Intelektual Seniman Banten

Di lobi tempat Anda membeli tiket, adalah satu-satunya tempat di Museum Benteng Heritage yang diperbolehkan untuk mengambil foto. Karena di bagian museum lainnya, pengelola memberlakukan larangan untuk mengambil foto dan merekam aktivitas selama di dalam museum.

Sejak dari lobi inilah pemandu akan menjelaskan berbagai barang yang terdapat di setiap ruangan. Ada dua benda yang menarik terdapat di lobi, yakni, lukisan tentang kondisi Pasar Lama pada tahun sekitar 1950-an dan sebuah naga berkulit batik emas. Batik inilah yang menandakan semangat ke-Indonesia-an yang plural dari naga sebagai simbol warga Tionghoa.

Memasuki lantai satu Anda akan dihadapkan dengan gerbang bulan atau “moon gate”. Desain “moon gate” merupakan ciri khas pada rumah-rumah kerajaan dalam film-film kolosal Tionghoa. Di tempat ini terdapat tangga yang menghubungkan ke lantai dua.

Sebelum naik ke lantai dua, pemandu akan mengingatkan kepada pengunjung untuk tidak duduk pada benda-benda kayu yang terdapat di lantai dua.

BACA :  Ngibing, Harmonisasi Nostalgia Masa Muda

Begitu tiba di lantai dua, Anda akan menemukan berbagai macam jenis timbangan opium yang disimpan di dalam lemari kaca. Selain itu, berbagai barang-barang sejarah lainnya tersusun rapi, baik di dalam etalase maupun yang diletakkan di atas meja.

“Jaman penjajahan, Belanda memperbolehkan rakyat Indonesia menanam opium untuk mengeruk keuntungan. Bahkan, Belanda juga memperbolehkan rakyat menghisap opium dengan tujuan supaya rakyat Indonesia bodoh,” jelas salah seorang pemandu seraya menambahkan, timbangan opium yang terdapat di museum ini berasal dari Tiongkok, Jepang, Korea, Indonesia, Burma, dan Thailand.

Selain timbangan yang menjadi simbol perdangan di Pasar Lama, museum ini juga menyimpan koleksi botol kecap dan label kecap-kecap benteng yang terkenal sejak dulu di Tangerang. Ada koleksi label Ketjap Benteng Teng Giok Seng yang diproduksi di Benteng Tangerang. Ada juga label dan cap Ketjap Siong Hin.

Di dalam museum juga terdapat barang-barang yang diduga sebagai penginggalan sejarah berupa pecahan keramik, kerang-kerang, gigi, paku handmade yang terbuat dari besi, bahkan timah. Barang-barang itu ditemukan pada saat restorasi museum dilakukan dengan cara melakukan penggalian untuk mengecek pondasi bangunan.

BACA :  Musikalisasi dan Tari Merak Meriahkan Milad Ke-33 SMPN 1 Cimarga

Di depan etalase penyimpan timbangan opium, ada juga koleksi sastra lama Tionghoa dan Tangerang tersimpan. Salah satunya adalah Surat menyurat O.K.T (Oey Kim Tiang) yang merupakan penyadur cerita silat dari Tangerang.

Ada juga sepatu China yang berukuran sangat kecil. Dulunya sepatu ini digunakan untuk membentuk kaki wanita China menjadi sangat kecil.

“Dulu orang Cina percaya, semakin kecil kakinya maka itu menunjukkan kebangsawanannya,” kata pemandu.

Ada juga kebaya encim, tempat tidur orang Cina yang dilengkapi dengan pispot dan wastafel. Anda juga bisa menyaksikan mainan khas Tionghoa seperti mahyong. Meja mahyong ini terbuat dari kayu. Setiap sudut meja dilengkapi dengan kotak untuk menyimpan uang dan makanan.

Di lantai dua Meseum Benteng Heritage, terdapat relief Sam Kok, sebuah roman klasik Tionghoa yang menceritakan tentang tiga kerajaan hasil pemecehaan dari Tionghoa….



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler