Connect with us

OPINI

Merawat TNUK untuk ‘Rumah Baru’ Badak Cula Satu

Published

on

Badak Jawa merupakan mamalia yang sudah langka ditemukan di Indonesia. Keberadaannya saat ini masih tersisa dan hanya bisa ditemukan di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Kecamatan Sumur, sebelah selatan Kabupatan Pandeglang.

Badak Jawa yang lebih populer disebut badak cula satu, kini diambang kepunahan. Yang tersisa adalah yang mampu bertahan dari ancaman alam dan ganasnya perburuan yang dilakukan oleh manusia.

Badak cula satu diresmikan sebagai salah satu warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO sejak 1991. Namun buat warga Pandeglang, budak cula satu tak sekadar hewan langka, melainkan telah menjadi satu kesatuan. Itulah kenapa badak cula satu jadi ikon dan terpakai pada logo Pemkab Pandeglang.

Binatang langka ini memiliki penciuman dan pendengaran yang baik saat mencari makanan, namun hewan ini lemah dalam penglihatan. Karenanya, badak lebih aktif hidup dan mencari makan di siang hari. 

BACA :  Peran Bung Karno dalam Berstrategi di Olahraga: Kilas Balik Haornas 2019

Berdasarkan hasil monitoring 2014, populasi badak cula satu di TNUK saat ini semakin berkurang. Hasil ekspose oleh Balai TNUK, Selasa (7/7/2015) di Pendopo Gubernur Banten menyebutkan, jumlah badak Jawa yang tersisa saat ini hanya 57 ekor, sedangkan pada tahun 2013 berjumah 60 ekor dan tiga ekor mati.

Upaya melindungi jenis binatang itu sudah satu abad lamanya. Selama itu, kehidupannya di Ujung Kulon mengalami berbagai cobaan  yang mematikan, seperti perburuan liar dan bahkan gangguan serangan penyakit. 

Tetapi mereka masih bertahan dalam kelompoknya. Mahluk prasejarah ini telah menjadikan TNUK sebagai tempat terakhirnya untuk terus berkembang biak.

Kendati binatang ini dianggap sebagai binatang liar, tapi satwa ini dilindungi dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990. Aturan ini memperingatkan, bahwa (siapa saja) dengan sengaja memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia diancam pidana.

BACA :  Menengok Rumah Bersejarah yang Dibangun Sebelum Indonesia Merdeka di Pamegar Sari Pandeglang

Meski legalitas ini dijadikan kekuatan hukum untuk terus menjaga binatang ini dari perburuan, namun itu tidaklag berarti apa-apa. Sudah seyogianya masyarakat dan petugas TNUK terus melakukan pemantauan.

Meski banyak pihak yang kini berupaya melakukan penyelamatan badak, namun di sisi lain ada ancaman tersendiri untuk kehidupan badak cula satu. Kondisi ini bahkan cenderung luput dari perhatian. 

Hutan yang semestinya menjadi tempat kelangsungan hidup badak, kini beralih fungsi menjadi perkebunan warga. Akibatnya, selain lahan hutan berkurang, pakan alami untuk badak cula satu praktis mengalami kelangkaan.

Oleh karena itu, upaya yang harus dilakukan untuk penyelamatan badak cula satu–baik masyarakat maupun pemerintah–adalah merenovasi rumah lama supaya menjadi rumah baru untuk badak. Saat ini muncul wacana pemindahan badak cula satu. Namun, ini tidaklah efektif.

BACA :  Jasmerah Bung Karno, Nasionalisme dan Generasi Muda

Renovasi rumah lama badak cula satu itu di antaranya, memberikan pemahaman kepada masyarakat betapa pentingnya melestarikan hewan yang hampir punah ini agar tidak merusak lahan warga sehingga itu bisa terhindar dari minimnya tempat mereka hidup. Badak juga bisa lebih leluasa saat mencari makan.

Meski TNUK dijaga secara ketat, namun upaya lain harus dilakukan adalah meningkatkan pengamanan dengan melakukan patroli pada populasi dan habitat badak tersebut.

Selain itu, upaya untuk menanam aneka tumbuhan diyakini langkah efektif dalam merenovasi rumah badak yang hidup di siang hari ini.

Upaya lainnya juga bisa dilakukan untuk menyalamatkan polulasi badak, mulai dari pelaksanaan undang-undang dan penyuluhan kepada masyarakat, bahkan ke pihak lain. Tentunya jika semua kalangan terlibat aktif, upaya menyelamatkan badak dari kepunahan dapat terwujud.(Rus)

 



Terpopuler