Connect with us

OPINI

Rayuan Maut Destinasi Wisata Lebak

Published

on

Dian Wahyudi. (Istimewa)

Lebak- Sejalan waktu, dengan memantapkan visi dan misi kabupaten Lebak yang fokus dalam pengembangan Pariwisata, memberikan ruang kreatif dan investasi bagi berbagai kalangan. Visi Kabupaten Lebak, Sebagai Destinasi Wisata Unggulan Nasional Berbasis Potensi Lokal, geliat kelompok sadar wisata di Kabupaten Lebak tampaknya semakin semarak.

Potensi wisata lokal berbasis wisata alam yang terserak di banyak kecamatan dan desa di kabupaten Lebak, baik pantai, curug (air terjun), panorama ketinggian, danau, wisata kebun teh sampai budaya berupa kearifan lokal dalam seba ataupun seren taun, serta wisata sejarah dan wisata religi seolah berlomba memberikan pelayanan dan fasilitas terbaik menggaet para wisatawan. Belakangan menyusul berbagai festival mewarnai kalender tahunan wisata Lebak.

Di tambah Misi Kabupaten Lebak 2019 – 2024 yang juga semoga memberi daya ungkit, dalam meningkatkan kualitas dan daya saing SDM, meningkatkan produktifitas perekonomian daerah melalui pengembangan pariwisata, meningkatkan ketersediaan infrastruktur wilayah, meningkatkan kualitas lingkungan hidup, serta mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik. Sudah memiliki syarat yang cukup, Kabupaten Lebak menuju daerah yang maju dan modern, jika dikelola dengan baik.

Semakin hidupnya sektor pariwisata dan industri kreatif di Lebak, urusan genjot menggenjot infrastruktur menuju berbagai destinasi wisata dan fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum) di destinasi wisata harus segera di rencanakan dengan matang. Berkordinasi dan melakukan pembinaan oleh dinas terkait dengan Desa dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat.

Apalagi berbagai rayuan maut penuh pesona alias berbagai promosi kalender wisata dan destinasi wisata baru, cukup menggiurkan para wisatawan, baik lokal ataupun luar kabupaten Lebak.

BACA :  Calon Tunggal: Refleksi dan Eksaminasi

Dari mulai paket wisata budaya Baduy termasuk Seba Baduy-nya mulai dikemas ciamik dengan tajuk Festival Seba Baduy, Seren taun Cisungsang, ada pula seren taun kasepuhan Cisitu, menyusul seren taun kasepuhan lain yang juga mulai dikemas sebagai event wisata.

Negeri di atas awan Gunung Luhur Citorek, yang viral dan memberikan pesona serta menyampaikan rasa penasaran bagi banyak orang untuk merasakan sensasinya. Negeri di atas awan disebut begitu karena letaknya di atas pegunungan, dengan balutan awan nan indah dan perdesaan yang asri di bawahnya.

Waktu terbaik untuk menikmati hamparan samudera awan di Gunung Luhur adalah saat pagi hari, mulai pukul 05.00 WIB hingga 08.00 WIB. Saat itu gumpalan awan berwarna putih yang sangat luas, baru saja terbentuk dan menggantung di bawah kaki bukit di Gunung Luhur. Kondisi jalannya masih berbatu dan tanah merah di beberapa bagian. Satu kilometer menuju spot foto, pengunjung harus terlebih dahulu menaklukan Tanjakan Satu Kilo dengan rute menanjak. Sangat disarankan untuk tidak memaksakan naik jika kendaran tidak dalam kondisi prima.

Destinasi wisata pantai semisal Sawarna, Bagedur, Binuangeun, Karang Nawing, Pasput, Karang Songsong masih menjadi primadona bagi berbagai kalangan, telah menjadi agenda rutin tahunan menyambut ribuan orang saat lebaran Idul Fitri.

Tak kalah menarik, ada pula wisata Danau Talanca, sempat menghilang dari jelajah para pelancong wisata. Danau Talanca yang berada di Desa Cilangkahan, Kecamatan Malingping, kini mulai banyak disinggahi para wisatawan lokal maupun manca negara. Konon kabarnya, danau yang memiliki nilai eksotis alam ini sempat disinggahi musisi legendaris terkenal Iwan Fals.

BACA :  Endog Bebek dan Batas Kabupaten

Saat ini berbagai penataan terus dilakukan oleh para pegiat wisata setempat. Mulai dari perbaikan akses jalan menuju lokasi wisata, sarana tempat duduk, tempat swafoto dan lainnya untuk menunjang destinasi wisata, dimana pengunjung akan disuguhi pemandangan alam terbuka yang maha luas dengan danau yang di kelilingi aneka tanaman laut.

Ada pula Situ Dangdang di kampung Dangdang Desa Cisimeut Raya, Leuwidamar, belakangan mulai viral kembali, ramai diperbincangkan, memiliki suguhan alam nan indah, air yang tenang dan tidak begitu dalam. Dengan menggunakan rakit, para wisatawan dapat bermain dan berswafoto dengan view menarik.

Ditambah berbagai event Festival, dari mulai Festival Multatuli, dimana Museum Multatuli, Lebak, dan Platform Indonesiana dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menghelat Festival Seni Multatuli (FSM), menjadi event tahunan untuk mengenalkan sejarah kepada masyarakat Lebak secara menyenangkan, diramaikan dengan berbagai acara, seperti simposium, pameran, dan aneka kegiatan seni. FSM tak hanya memperkenalkan kembali Multatuli, tetapi juga mendukung pemajuan seni dan kebudayaan di Lebak.

Belum lagi event Murak Kadu (belah duren), yang pernah viral di jagat Sosial Media (Sosmed), sepertinya juga akan menjadi event tahunan Lebak. Dalam waktu dekat akan ada Festival Getek Ciujung, sebagai tawaran, bukan hanya sebagai event wisata juga bentuk upaya sadar bersih lingkungan utamanya aliran sungai Ciujung yang membelah kota Rangkasbitung.

BACA :  Destinasi Wisata, Mimpi dan Harapan

Namanya juga rayuan maut, apalagi penuh pesona (hhmm), hati-hati kepada para pengambil kebijakan di pemkab Lebak jangan kasih kendor urusan infrastruktur menuju Destinasi Wisata, kepada para pengelola, baik Desa ataupun Pokdarwis agar senantiasa membenahi berbagai fasilitas dan wahana menarik dan kreatif, tingkatkan terus kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) para pengelolanya, karena sejatinya disaat Destinasi Wisata merayu atau melakukan promosi, ada konsekuensi kepuasan maksimal untuk para wisatawan, baik dari segi pelayanan, fasilitas ataupun kesan.

Sehingga geliat ekonomi juga dirasakan masyarakat sekitar, dengan menjual berbagai kerajinan kreatif ataupun souvenir lainnya, menyediakan homestay untuk para wisatawan, menjual berbagai makanan tradisional sebagai oleh-oleh.

Meminjam sebuah kalimat bijak dari Harry Santosa, pakar tumbuh kembang anak Fitrah Based Education, saya juga mengibaratkan mengelola jasa dan destinasi wisata seolah mengasuh anak, harus sabar dan telaten. Deraskan maknamu, bukan tinggikan suara, karena hujanlah yang menumbuhkan bunga-bunga, bukan petir dan guruhnya.

Dan hati-hati pula, tidak ada salahnya kita memperhatikan nasehat para pakar pemasaran. Sering kali kita menjual keunggulan produk yang tidak dibutuhkan konsumen. Terlalu asyik mengulik keunggulan produk, kita lupa menggali kebutuhan konsumen.

Apa yang para wisatawan butuhkan di Destinasi Wisata yang dikelola, apa yang dicari wisatawan di setiap perhelatan, event atau Festival ?. Cari dan temukan, jadikan kekuatan promosi. Sehingga Destinasi wisata selalu ngangenin. Kitu meureun…

Penulis: Dian Wahyudi
Anggota Fraksi PKS DPRD Lebak



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler