Connect with us

Berita Terbaru

Untuk Bobotoh Sejagat Raya, Jangan Berlebihan Sikapi Kondisi Persib yang Belum Moncer! Ini Sebabnya

Published

on

Sepakan keras pemain Persita Tangerang, Irsyad Maulana di luar kotak penalti mampu menyamakan kedudukan 1-1 dari Persib. Dalam pertemuan tersebut Persita harus menyerah dengan skor tipis 1-2 dari Persib. (Tangkap layar Indosiar)

Jakarta – Posisi Persib yang berada di peringkat lima klasmen sementara Liga 1 Indonesia, tidaklah buruk. Pasalnya, selisih poin Persib dengan Bhayangkara FC sebagai pemuncak klasmen hanya terpaut enam poin.

Selain itu, selama Seri 1 bergulir Persib belum pernah kalah. Artinya, Persib tak bisa dikatakan gagal tapi hanya belum maksimal.

Demikian disampaikan pengamat sepakbola Indonesia, M. Kusnaeni seperti dikutip BantenHits.com dari CNNIndonesia.

Menurut pria yang akrab disapa Bung Kus, keinginan Bobotoh memecat Robert Rene Alberts dari posisi pelatih Persib Bandung terlalu cepat.

“Kalau diminta evaluasi, harus ada dasar. Kalau dianggap pelatih tidak perform, dasarnya apa? Peringkat di klasemen? Baru pekan keenam, belum sampai 20 persen dari keseluruhan liga berjalan. Masih terlalu dini untuk menilai performa pelatih,” kata Kusnaeni, Selasa, 12 Oktober 2021.

“Kalau dibilang permainan tim tidak menarik, dasarnya apa? Yang realistis fakta di lapangan, indikatornya Persib tidak pernah kalah. Sehingga kalau diindikasikan tim bermain buruk, performa tidak bagus, ini debatable. Hal-hal ini jangan kemudian dijadikan justifikasi penilaian final untuk pelatih. Berlebihan,” ucap Kusnaeni menambahkan.

BACA :  MUI Kawal Aspek Kehalalan Vaksin COVID-19

Sejauh ini, lanjut Kusnaeni, belum ada indikator Persib dianggap gagal di Liga 1 2021. Dalam enam pertandingan di Seri I Maung Bandung dua kali menang dan empat hasil seri. Persib meraih 10 poin dan belum pernah kalah.

“Kalau belum maksimal, iya. Tapi belum gagal,” tutur Kusnaeni.

Dijelaskan Kusnaeni, fenomena budaya suporter yang menuntut hasil bagus secara instan dari timnya di sepak bola Indonesia tidak hanya di Persib. Tapi juga ada di PSS Sleman, Persebaya Surabaya dan Persija Jakarta untuk Liga 1 musim ini.

Diakui pria yang akrab disapa Bung Kus ini, pelatih dituntut membuat sebuah tim berprestasi. Tapi masing-masing tim punya persoalan internal berbeda yang kemungkinan membawa pengaruh pada performa dan permainan tim di lapangan.

Ditambah lagi menurut Kusnaeni, kompetisi Liga 1 202 berjalan setelah 1,5 tahun terhenti akibat pandemi Covid-19. Hal itu dinilai memengaruhi pada performa tim.

BACA :  Tekuk Saudara Muda 2-0, Kabupaten Tangerang Raih Emas Sepakbola Porprov V Banten

“Di Indonesia sekarang masalahnya kompetisi dijalankan tanpa persiapan yang matang. Program, periodesasi, uji coba di klub ini kan tidak ada. Banyak tim yang tidak sempat uji coba, persiapan seadanya, bahkan pemain asing baru datang langsung gabung main. Semua tergesa-gesa dan persiapan tim jadi tidak maksimal. Buat pelatih ini bukan persoalan yang gampang,” ujar Kusnaeni.

Tuntutan dari elemen suporter memecat pelatih di tengah kondisi yang tidak ideal dengan ekspektasi tinggi tanpa melihat realita proses bergulirnya kompetisi saat ini dianggap berlebihan.

Kusnaeni memberikan contoh Bali United sebagai juara bertahan yang juga dianggap masih memiliki penampilan yang belum maksimal. Di mata Kusnaeni, Bali United jadi salah satu tim dengan persiapan paling baik di Liga 1 musim ini.

Terkait evaluasi Robert Alberts pada akhir seri kedua Liga 1 2021 nanti, Kusnaeni menyebut itu jadi keputusan bijak. Jeda libur antara seri pertama ke seri kedua selama 14 hari dianggap jadi waktu yang cukup untuk memperbaiki dan mengubah performa tim yang akan ditunjukkan di seri kedua nanti.

BACA :  Tergiur Beli Motor Curian Harga Murah, Warga Muara Binuangeun Ditangkap karena Dianggap Penadah

“Kalau sampai akhir seri kedua tim tidak berprogres, kita bisa melihat, menilai level kepemimpinan pelatih. Baru itu bijak, tapi ada faktor lain yang juga harus di lihat, bagaimana materi pemain, kebijakan internal manajemen dan lainnya,” sebut Kusnaeni.

Kusnaeni mengingatkan kepada suporter untuk membedakan kecintaannya kepada klub dengan aspek legalitas dan profesionalitas dalam kepemilikan klub. Sekalipun suporter disebut menjadi pemegang saham dalam sebuah klub, cara penyampaian yang dilakukan pun harus sesuai dengan aturan yang ada.

“Kalau suporter mau ikut menentukan nasib pelatih yang menjadi keputusan manajemen, suporter harus jadi pemegang saham dan itu akan diputuskan di RUPS. Klub dipaksa membuat keputusan dari tekanan luar, ini mendikte dan tidak profesional. Seharusnya keputusan dibuat oleh para pemegang saham yang belum tentu hal itu sesuai dengan mayoritas suara pemegang saham,” terangnya.

“Pemegang saham bicaranya bukan di lapangan, tapi di forum RUPS. Keputusan krusial klub diputuskan di RUPS. Seharusnya suporter bicara atas nama pemegang saham. Tapi ingat yang berkuasa itu pemegang saham mayoritas,” tegas Kusnaeni.

Editor: Fariz Abdullah



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-2015 bekerja sebagai produser di Info TV (Topaz TV). Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler