Connect with us

BABAD BANTEN

Orang Terhormat di Banten Dikubur dalam Tempayan

Published

on

Banten yang diyakini pertama kali dikenal lewat laporan perjalanan Tome Pires pada 1513, diketahui sebagai salah satu bandar Kerajaan Sunda, juga sebagai sebuah kota niaga yang baik.

Namun, jauh sebelum itu Banten juga ternyata diketahui sudah dihuni oleh manusia sejak jaman nirleka atau manusia yang belum mengenal aksara.

Pada rubrik Babad Banten kali ini, Banten Hits akan memaparkan cara leluhur Banten menguburkan orang-orang terhormat di kalangan mereka. Laporan ini adalah berdasarkan kajian pustaka yang dikutip seluruhnya dari makalah “Banten Sebelum Islam” yang ditulis oleh Ayat Rohaedi, Sejarawan dari Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Makalah ini ditulis dalam buku kumpulan makalah diskusi berjudul Banten Kota Pelabuhan Jalan Sutera.  

BACA :  Sejarah Saudara Kandung dalam Hubungan Banten-Lampung

Pada masa manusia jenis nirleka itu, diketahui manusia Banten pernah mengenal cara penguburan seseorang dengan menggunakan wadah berupa tempayan. (Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga terbitan Balai Pusataka, tempayan diterjemahkan  tempat air yang besar yang dibuat dari tanah liat dengan bentuk perutnya besar dan mulutnya sempit)

Cara penguburan manusia dengan cara memasukannya ke dalam tempayan, adalah bentuk penguburan terhadap orang-orang yang dianggap terhormat dalam lingkungan mereka. Mereka memasukan mayat ke dalam tempayan dengan cara berjongkok.

Sementara, untuk manusia biasa atau masyarakat umum, cara penguburannya dilakukan tanpa wadah dan dikubur seperti cara penguburan yang dikenal sampai sekarang.

Cara-cara penguburan seperti yang diungkap di atas, diketahui berdasarkan temuan. Dalam tahun 1954, di Anyer Lor ditemukan bagian-bagian rangka manusia yang relatif masih utuh. Jumlahnya banyak, atau sisa budayanya yang cukup banyak. Rangka manusia tersebut ditemukan dalam tempayan.

BACA :  Surat Raja Banten untuk Raja Inggris James I Tahun 1605

Rangka manusia di Anyer Lor yang ditemukan dalam tempayan itu adalah rangka laki-laki dengan rahang bawah dan gigi-gigi berukuran sedang. Disampingnya ada juga rangka seorang perempuan yang diduga berumur sekitar dua puluh tahun, dengan rahang dan gigi memperlihatkan ciri yang sama.

Pada kedua rangka itu masih terlihat ciri-ciri ras Australomelanesid.

Selain rangka, di Anyer Lor juga ditemukan gerabah. (Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga terbitan Balai Pusataka, gerabah diterjemahkan sebagai alat-alat dapur untuk memasak yang dibuat dari tanah liat yang kemudian dibakar, misalnya kendi dan belanga).

Gerabah tersebut rupanya digunakan sebagai bekal kubur, termasuk tempayan tempat rangka manusia itu. walaupun jumlahnya tidak banyak, gerbah dan tempayan Anyer cukup menarik karena memperlihatkan bahwa jenisnya juga ditemukan di tempat lain sehingga dapat diduga bahwa gerabah jenis itu cukup luas dari sebarannya.

BACA :  Sejak Dulu Tangerang Sudah Jakarta Sentris

Gerabah Anyer antara lain terdiri dari cawan berkaki dan kendi tanpa cerat dengan leher yang panjang tanpa hiasan, warna cokelat kehitaman dan diupam. Gerabah Anyer diduga berkembang atara tahun 200-500 M, atau tepat menjelang masa sejarah Jawa Barat dimulai.(Rus)



Darusssalam Jagad Syahdana mengawali karir jurnalistik pada 2003 di Fajar Banten--sekarang Kabar Banten--koran lokal milik Grup Pikiran Rakyat. Setahun setelahnya bergabung menjadi video jurnalis di Global TV hingga 2013. Kemudian selama 2014-1015 bekerja sebagai produser di Info TV. Darussalam JS, pernah menerbitkan buku jurnalistik, "Korupsi Kebebasan; Kebebasan Terkorupsi".

Terpopuler