Connect with us

PERSONA

Kartini dari Kelurahan Kenanga; Mengelola Tempat Belajar tanpa Dibayar

Published

on

25 Mei 1899 silam, RA Kartini, seorang perempuan Jawa–perempuan di zaman itu tentunya terkungkung sama adat istiadat yang kuat– tiba-tiba mengutarakan sesuatu yang anomali, sesuatu yang lancang di zamannya karena harus melawan dogma. 

Sesuatu yang lancang itu diutarakan kepada sahabat penanya Nona E.H. Zeehandelaar yang berada di Belanda, negara yang terpisah jauh dari Jawa.

“Saya ingin sekali berkenalan dengan seorang gadis modern…… Gadis yang selalu bekerja tidak hanya untuk kepentingan dan kebahagiaan dirinya sendiri, tetapi berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan sesama. Hati saya menyala-nyala karena semangat yang menggelora akan zaman baru….,” tulis Kartini saat itu.

Kumpulan korespondensi RA Kartini dengan sahabat penanya ini kemudian menjadi buku yang masyhur, yang menjadi titik awal kebangklitan perempuan, “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang dalam versi Belanda berarti, “Door Duisternis tot Licht”.

Seabad lebih dari era Kartini, seorang ibu rumah tangga muda yang tinggal di Jalan KH. Hasyim Ashari, Gg Masjid  RT 04/02, No: 10, Kelurahan Kenanga, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang Banten, harus berjuang menembus segala keterbatasan sebagai seorang perempuan.

Kartini dari Kelurahan Kenanga ini mengelola sebuah lembaga yang diberi nama Rumah Belajar dan Bermain Cinta Ananda. Rumah belajar dan bermain ini mengakomodir anak-anak di sekitar rumahnya untuk belajar dan bermain dengan menjalankan konsep tidak menarik iuran dari siswa yang ikut belajar dan bermain.

Melalui kegiatan ini, Ernawati berusaha ikut meningkatkan kualitas pendidikan anak. Caranya, anak diajak untuk tidak melupakan sejarah kebahagiaan masa kecil melalui berbagai permainan anak.

Ibu tiga anak ini mengaku, kegiatannya ini sudah dilakukan sejak 2012 lalu. Erna–begitu dia biasa disapa–mengelola secara swadaya rumah belajar dan bermainnya ini dengan menggunakan lahan di depan tempat tinggalnya yang rimbun. Di tempat ini, ia bersama beberapa orang tutor mengajak anak anak belajar dan bermain.

“Berdirinya Januari 2012 lalu, saat ini siswanya sudah mencapai 60 orang mulai dari usia balita sampai kelas 6 SD,” jelasnya, Selasa (21/4/2015).

Erna menceritakan, awalnya ia mendirikan rumah belajar dan bermain karena menyukai dunia pendidikan dan dunia anak, apalagi saat ini anak-anaknya masih di usia tersebut.

“Berawal dari rasa suka saya kepada dunia pendidikan dan anak, lalu saya mengingat memori masa kanak-kanak saya yang indah dengan berbagai permainan tradisionalnya yang saat ini sudah mulai hilang dan tidak dapat dinikmati anak-anak. Dari sanalah saya akhirnya menggagas rumah belajar dan bermain ini,” ucapnya.

Menurut Erna metode belajar dan bermain sangatlah baik karena tidak membuat anak menjadi bosan, pusing dan lelah. Apalagi permainan-permaian tradisional yang ia hadirkan dalam konsep rumah belajar dan bermainnya dapat melatih emosional dan motorik anak.

Permainan-permainan tradisional anak yang dimainkan seperti engrang bambu, congklak, hulahub, lompat tali, dampu, galasin dan tak benteng.

Untuk biaya operasional, hingga saat ini katanya masih ditanganinya sendiri dibantu dengan infak seiklasnya yang diberikan orang tua siswa. 

“Saya tidak menarik iuran, bagi yang mau berbagi saya silahkan mengisi kotak infak seiklasnya, ini sengaja saya buat agar menarik anak mau belajar dan melestarikan permainan-permainan tradisional,” tutupnya. 

Jalan yang ditempuh Erna adalah bentuk emansipasi yang sesungguhnya: menjadi perempuan modern yang serba bisa, lalu menularkannya untuk kebaikan sesama….(Rus)

 

Trending