Connect with us

PERSONA

Yang Tak Pernah Berhenti Meski Fisik “Membatasi”

Published

on

Bagi Anda yang setiap hari melintas di Jalan Raya Ciledug-Jakarta Selatan, Anda pasti mengenal sosok pria pengatur lalu lintas yang nyaris saban hari berada di Jalan Raya Ciledug, tepatnya di depan Gang Gotong Royong.

Seragam polisi yang dikenakan di balik fisiknya yang tak normal, membuat sosok Ahmad Junaedi (43) selalu mencuri perhatian pengendara yang melintas di jalan itu. Ditambah, Dedi–begitu dia biasa disapa–seolah tak pernah lelah mengatur jalanan yang nyaris saban hari padat oleh kendaraan ini.

“Terusik” oleh semangat Dedi, wartawan Banten Hits Yogi Triandono berkesempatan mengikuti aktivitas pria yang sejak lahir harus memiliki kaki yang tak normal akibat kelumpuhan yang dideritanya, juga harus menderita tuna wicara ini.

BACA :  Kisah William Alumni Universitas Pelita Harapan yang Sukses Jadi Penulis

Sehari-hari, Dedi tinggal bersama ibu dan isterinya di Jalan Gotong Royong VII, RT 03/ 01, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang. Sang ibu, Husnah menceritakan bagaimana setiap hari Dedi Junaedi beraktivitas.

Dengan sepeda motor yang dimodifikasi supaya bisa digunakan oleh penyandang disabilitas, Dedi memulai hari dengan mengantarkan isterinya yang merupakan seorang pembantu rumah tangga di kawasan Kreo, Ciledug. Setelah itu, Dedi langsung tancap gas lalu memarkirkan motornya di pinggir jalan.

Dedi berseragam polisi lengkap. Seragam itu didapatnya sebagai hadiah dari Polsek Ciledug yang mengapresiasi semangatnya untuk turut membantu mengatur lalu lintas. Tak hanya itu, Dedi juga pernah mengamankan tempatnya “bertugas” dari aksi tawuran.

BACA :  Achmad Deni Setiawan, Penjual Bensin Eceran yang Sukses Jadi Pengusaha Ulung

“Seragam itu dikasih polisi dari Ciledug. Soalnya seneng ngeliat semangatnya Dedi ngatur lalu lintas. Kadang suka ada yang tawuran di sini. Dedi ikut-ikutan bantuin ngamanin, bawa-bawa pentungan. Dari

situ Dedi dikasih seragam lengkap kepolisian,” kata Husnah.

Husnah melanjutkan, Dedi merupakan orang yang giat, aktif, dan supel. Dengan kekurangan fisik yang dideritanya, Dedi justru lebih sering di luar rumah untuk melakukan aktivitas. 

“Dedi dari kecil orangnya emang lebih sering di luar (rumah) daripada di rumah. Sering bantu orang lain juga. Dulu ada orang yang kepalanya bocor gara-gara tawuran, dia yang anterin ke rumah sakit pake motornya,” ungkap Husnah.

Semasa kecil dulu, kata Hasnah, Dedi memang sering dicemooh oleh teman-temannya. Namun, Dedi tetap

BACA :  Iyus Gusmana, Tukang Urut yang Jadi Wakil Rakyat

menikmati hidup dan profesi sebagai pengatur lalu lintas yang sudah ia jalani sejak 15 tahun

lalu ini.

Meski fisik yang seolah “membatasi”, Dedi tetap teguh dan semangat menjalankan rutinitas sehari-hari, mencari rejeki dengan cara membantu mengatur lalu lintas. Dedi bertekad untuk mendapatkan uang halal. Dia enggan orang mengasihaninya, apalagi sampai dia meminta-minta.

“Walaupun punya kekurangan gini, Dedi tetap semangat menjalani hidupnya. Dia gak mau ada yang ngasihanin keadaannya,” terang Husnah lagi.

Husnah berharap, anaknya itu terus bisa memberikan manfaat untuk masyarakat di sekitarnya. Dia juga pengen anak laki-lakinya itu segera mendapatkan momongan….(Darussalam Jagad Syahdana)



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terpopuler