Connect with us

GAYA HIDUP

Mampirlah Sejenak ke Kampung Kami, Kampung Hijau Matahari….

Published

on

Di kota-kota besar pohon-pohon telah menjelma beton. Untuk sekadar berteduh, orang-orang kota harus menepi jauh. Udara yang segar berubah “sangar”: gersang dan polutif. Karena kondisi ini, lingkungan asri nan segar menjadi sesuatu yang langka di kota. 

Di tengah ancaman kondisi kota seperti yang diutarakan di atas, sekelompok ibu-ibu di Komplek Ciledug Indah 2, Kota Tangerang seolah pembawa oase. Mereka bangkit dan yakin ancaman lingkungan itu tak akan hilang dengan mengeluh atau pasrah pada keadaan. 

Kini, berkat kegigihan mereka, lingkungan asri yang dipenuhi beragam tanaman bisa terwujud di tengah bising dan panasnya kota. Mereka pun kini menjadikan lingkungan mereka sebagai sarana penunjang kebutuhan.

Berawal dari keprihatinan masyarakat RW 08, khususnya RT 02,03, dan 08 terhadap lingkungan mereka yang awalnya terlihat kumuh, bau dan rawan banjir. Maka dibentuklah Kampung Hijau Matahari bersama Badan Lingkungan Hidup Kota Tangerang demi mewujudkan lingkungan hidup yang asri dan enak dipandang.

BACA :  Kampung Hompimpa; Rangkul Generasi Milenial dengan Permainan Tradisional

“Dulu di Sekitar sini (RW 08) kampungnya bisa dibilang kumuh. Di depan ada pangkalan ojek, kadang suka pipis sembarangan, jadinya bau pesing ke mana-kemana. Belum lagi yang buang sampah sembarangan. Semenjak ditaro taneman-taneman, tukang ojek udah gak berani mangkal di sini,” kata Syamsuarni (53), salah seorang anggota Kampung Hijau Matahari.

Di kampung yang mulai bergerak pada Agustus 2014 ini terdapat berbagai macam tanaman, mulai dari tanaman hias sampai tanaman obat-obatan seperti tanaman binahong, kumis kucing, lidah buaya dan masih banyak tanaman lainnya.

“Selain tanaman hias, di sini ada tanaman binahong untuk reumatik, asam urat, buat stamina juga. Terus ada kumis kucing buat yang punya kencing manis. Ada juga lidah buaya buat kulit sama rambut dan masih banyak tanaman-tanaman lainnya,” ujar Syamsuarni.

BACA :  Kantor Perpustakaan Pandeglang Gelar Story Telling

Selain menanam, Kampung Hijau Matahari juga mengolah sampah organik maupun anorganik menjadi lebih bermanfaat lagi. Pengolahan sampah organik nantinya akan dibuat pupuk dan sampah anorganik dijadikan bahan kerajinan tangan.

“Kita juga mengolah sampah sendiri. Sampah-sampah anorganik ada yang dibuat sebagai bahan kreasi yang organik juga dibuat pupuk, yang pupuknya buat menyuburkan tanaman-tanaman Kampung Hijau,” jelasnya.

Untuk memberdayakan masyarakat sekitar, Kampung Hijau Matahari menyediakan bank sampah yang digunakan masyarakat sekitar untuk menabung sampah. Para penyetor sampah atau biasa disebut nasabah, menimbang sampahnya ke bank sampah dan hasil dari sampah tersebut kemudian ditukar uang dan ditabung. Uang tabungan baru bisa diambil minimal 6 bulan sekali.

BACA :  Sugar Glider, Hewan Mungil Menggemaskan

“Bank sampah digunakan untuk menabung masyarakat. Hasil sampah yang disetor kepada kami nantinya dapat ditukarkan uang dan bisa diambil minimal per enam bulan sekali,” terangnya.

Kampung Hijau Matahari adalah salah sau bukti, lingkungan yang hijau dan asri bisa terwujud jika orang-orang di wilayah perkotaan punya pemahaman dan semangat yang sama untuk gotong-royong melestarikan lingkungan. (Rus)

 



Terpopuler