Connect with us

CITARASA

Makan di Wartang; Merawat Ingatan tentang Tangerang

Published

on

Pengagum kuliner di jagat raya mungkin telah bersepakat, makanan bukan hanya sekadar pemuas selera dan rasa, melainkan terkandung di dalamnya nilai-nilai budaya yang menjelma kearifan lokal dan identitas daerah. Makanan juga diyakini mampu mengubah cara pandang. Begitu luhurnya makanan diposisikan. 

Faiz Alatas, pemuda Tangerang tulen adalah satu di antara banyak orang yang bersepakat dengan hipotesa di atas. Sadar jika Tangerang adalah hasil percampuran budaya Betawi, Tionghoa, Eropa, Arab, Sunda, dan Jawa, Faiz berusaha menggali budaya-budaya di Tangerang itu lewat makanan. Karenanya lahirlah Warung Akulturasi Tangerang (Wartang).

Lihat Video Liputan Kami di Wartang

Lewat Wartang, Faiz berusaha menelusuri masa lalu. Dia ingin, pengunjung Wartang tak sekadar makan, melainkan diajak merawat ingatan tentang Tangerang. Makanan-makanan masa silam di Tangerang, seolah bereinkarnasi di Wartang, tersaji menggiurkan.

BACA :  Festival Kuliner Tangsel Diharapkan Jadi Daya Tarik Wisatawan

Makanan seperti ondar andir, empleng, mie nyemek, dan es kuwut, mungkin terdengar asing di telinga mereka yang lahir di tahun 90-an. Namun, buat generasi sebelumnya, makanan-makanan itu adalah ingatan tentang masa kecil.

“Awalnya prihatin dan malu karena Kota Tangerang tidak punya ciri khas, karena terlalu banyak budaya yang berkumpul,” kata Faiz kepada Banten Hits dan tim liputan Citarasa BITV di minggu pertama Juni 2016.

Kami berkesempatan icip-icip menu-menu andalan di Wartang, salah satunya nasi ulam dengan ayam gumarang. Nasi ulam adalah makanan khas Betawi, yakni nasi putih yang ditaburi serundeng dan diberi berbagai sayuran dan penganan lainnya. Sebenarnya, teman nasi ulam tak perlu harus ayam gumarang. Bisa pakai ayam bakar atau goreng ikan asin.

BACA :  Segernya Sop Iga Kafe Pinus

Nah, nasi ulam plus ayam gumarang yang kami cobain ini. Hmmmmmmm…….. rasanya benar-benar nikmat di lidah. Apalagi makannya pakai sambel. Enaknya campur-campur.

Selesai makan nasi ulam dengan ayam gumarang, kami mencoba hidangan penutup di Wartang, yaitu cemilan khas Kota Tangerang, ondar andir. Ondar-andir akan terasa lebih nikmat  kalau dicocol dengan sambal kacang. Pokoknya dijamin bakal ketagihan.

Selain ondar-andir, kami juga menyicipi empleng, yang juga makanan khas Kota Tangerang. Empleng keju susu ini, pas dijadikan makanan penutup karena selain teksturnya yang lembut, rasa manis keju dan susunya pas banget di mulut.

Faiz Alatas sang pemilik Wartang, menceritakan masa-masa awal dirinya mendirikan Wartang dengan modal Rp 4 juta. Dari modal itu, kini Faiz isa meraup keuntungan antara Rp 60-80 juta per bulan. Sejak berdiri, Wartang tak pernah mengalami kerugian yang berarti.

BACA :  Berkunjung ke Cinde Wulung; Restoran yang Mendunia dengan Harga Bersahaja

“Alhamdulillah sekarang keuntungannya sudah Rp 60-80 juta per bulan. Belum pernah rugi yang sampe down gitu, paling cuma sepi aja, namanya jualan kan,” ujarnya.

Bagi Anda yang penasaran dengan beragam menu andalan tadi, langsung saja datang ke Wartang di Kali Pasir, Kelurahan Babakan, Kota Tangerang. Lokasinya gampang dicari kok. Pokoknya ikuti saja jalan terusan di samping Sungai Cisadane yang menuju ke Kawasan Pasar Lama… Susuri masa lalu Tangerang sambil menikmati hidangan kesukaan.(Rus)

 




Photos

  • Videos


  • Video Redaksi
    Video Redaksi
    Video Redaksi
    Video Redaksi
    1 of 3
    Video Redaksi
    2 of 3
    Video Redaksi
    3 of 3
  • Terpopuler