Connect with us

METROPOLITAN

Petinggi Baduy Sampaikan Peringatan Leluhur soal Potensi Tsunami di Banten

Published

on

SAAT SEBA BADUY JARO TANGGUNGAN 12 SAIJA PUTRA MENYAMPAIKAN PERINGATAN LELUHUR SOAL POTENSI TSUNAMI DI BANTEN

Jaro Tanggungan 12 Saija Putra menyampaikan peringatan leluhur soal potensi tsunami di Banten. Peringatan tersebut disampaikan saat acara pokok Seba Baduy di Pendopo Gubernur Lama, Kota Serang, Sabtu, 21 April 2018.(Banten Hits/ Saepulloh)

Serang – Potensi tsunami di Banten yang sebelumnya diprediksi peneliti tsunami pada Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), ternyata serupa dengan peringatan yang diterima Suku Baduy dari para leluhur.

BACA JUGA: BPPT Sebut Potensi Tsunami 57 Meter di Pandeglang, BMKG: Waspada dan Jangan Panik!

Hal tersebut disampaikan salah seorang petinggi Baduy melalui Jaro Tanggungan 12 Saija Putra saat acara pokok ritual Seba Baduy di Pendopo Lama Gubernur Banten, Kota Serang, Sabtu, 21 April 2018.

BACA :  Bupati Pandeglang tak Percaya Angka Putus Sekolah Tinggi

Menurut Saija, peringatan dari leluhurnya menyebutkan bakal adanya potensi tsunami di Banten Selatan dan wilayah Anyer pada 2018 ini.

“Kekhawatiran kami ada peringatan dari para leluhur sama karuhun, di tahun 2018 itu ada pengancaman tsunami di (Banten) Selatan yang pertama, dan keduanya di Anyar. Itu kami mudah-mudahan yang berdoa tidak terjadi,” ungkap Saija.

Saija juga meminta kepada pemerintah untuk melestariakan tanah adat yang mereka miliki. Pasalnya mereka selalu khawatir tanah adat mereka rusak. Jika alam rusak khawatir bakal adanya bencana alam yang mungkin saja terjadi suatu saat. Pihaknya menyebutkan, tanah adat yang masuk tanah ulayat dengan seluas 5.368 hektar dan 3.000 hektar tanah pelindung alam.

BACA :  Ratusan Relawan di Cilegon Dilatih Tanggulangi Kebakaran

“Gunung tidak boleh dilebur, lembah teu benang diruksak, sangsaka teu benang dirobah. Khawatir orang Baduy titipan seperti tadi, gunungnya lebur gunungnya ruksak, saksaka ka robah, longsor bumi, gempah alam, angin topan. Itu takut bencana lain waktu,” bebernya.

Perintah Lakukan Ritual

Untuk melestarikan alam dan lingkungan mereka mendapatkan amanat dari para leluhur untuk melakukan ritual ke sejumlah gunung, seperti Gunung Sanghiyang Siaran di Ujung Kulon, Gunung Honje, Gunung Kembang, Gunung Madur, Gunung Wongkok, Gunung Gang Panjang.

“Sepeti kewajiban-kewajiban orang Baduy pada kolot (tua) itu bukan mengakui gunung dan wilayah tapi titipan jaman dulu,” katanya.

Sementara Gubernur Banten Wahidin Halim mengungkapkan, Pemprov Banten berjanji tidak akan menganggu hak-hak warga Baduy termasuk alam warga Baduy. Tak hanya itu Pemprov pun siap membantu apa saja yanh bisa dibantu untuk warga Baduy.

BACA :  Warga Tuding Pemecah Ombak Milik PLTU Labuan Penyebab Abrasi dan Pendangkalan Sungai

“Kami juga tidak akan merubah kawasan dimana bapak tinggali, kami terus membantu apa yang bisa dibantu, karena bapak menghormati yang hidup harmonis dengan sekitar,” ungkapnya.

“Bapak bisa menjaga alam, menjaga kebersihan termasuk memelihara sungai, bapak hidupnya tenang, hidupnya damai dan bapak bisa menyatu baik dengan alam maupun sekitarnya,” tambah politisi Demokrat ini.

Kekaguman pria yang populer dipanggil WH ini terhadap warga Baduy tak hanya soal kehidupannya yang bisa menyatu dengan alam, tetapi kehidupan Baduy juga bisa membuatnya terkenal di luar negeri.(Rus)



Terpopuler