Connect with us

METROPOLITAN

Kisah Pilu Opik Kecil dari Cikeusik; Putus Sekolah Dasar demi Jadi Tulang Punggung Keluarga

Published

on

Opik (13), seorang kuli tani yang terpaksa putus sekolah demi menjadi tulang punggung keluarga. (BantenHits.com/Engkos Kosasih)

Tangan-tangannya cekatan memotong batang padi yang sudah siap panen. Matahari siang itu, Minggu, 28 Juli 2019 tengah terik-teriknya. Cahayanya terlihat berkilauan pada bulir keringat yang mengalir deras di atas kulit wajah Opik yang legam terbakar matahari.

Di antara para kuli tani berusia dewasa yang tengah memanen padi di Desa Sukaseneng, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, sosok Opik nyaris tak bisa dibedakan. Padahal usia Opik sangat jauh dibanding pekerja lainnya. Opik hanyalah anak yang baru berusia 13 tahun.

Dari ladang pesawahan ini Opik kecil menggantungkan hidup menjadi buruh tani dengan upah Rp 40 ribu per hari. Perjuangan Opik, bukan hanya untuk dirinya, melainkan juga untuk kakaknya, Sasmita (24) yang lumpuh sejak mengalami kecelakaan kerja.

Supaya bisa tetap mempertahankan hidup dan mengurus kakaknya, Opik bahkan harus rela putus sekolah saat duduk di kelas tiga.

Lalu, ke manakah ayah dan ibu Opik?

Encih, ibu Opik sudah lama meninggal. Sementara, bapaknya sudah menikah lagi dan pergi meninggalkan Opik dan Sasmita. Praktis, sejak ditinggal orangtua, beban keluarga beralih ke pundak Opik kecil.

“Di rumah tidak ada siapa-siapa. Ibu sudah meninggal dunia, bapak menikah lagi. Saya kerja dan berhenti sekolah karena harus mengurusi kakak saya yang sakit,” kata Opik kepada wartawan BantenHits.com Engkos Kosasih, Minggu, 28 Juli 2019.

Opik, mengurusi kakaknya, Sasmita yang menderita lumpuh. Opik terpaksa putus sekolah karena harus mengurusi kakak dan bekerja Di ladang untuk bertahan hidup. (BantenHits.com/ Engkos Kosasih)

Opik dan Sasmita tinggal berdua di rumah peninggalan orang tuanya. Saat ini, Opik menggarap hasil panen padi di sawah milik warga, dengan ongkos Rp 40 ribu per hari. Uang yang dia dapat, dibagi dua untuk makan dan jajan. Saat tidak ada pekerjaan, Opik dan Sasmita mengandalkan makan dari tetanga dan saudaranya.

“Berat kalau kerja, tapi mau gimana lagi. Kalau makan kadang dikasih sama saudara ataupun tetangga,” tambahnya.

Meski tak mampu berbuat apa-apa, Sasmita sesungguhnya merasa prihatin dengan kondisi adiknya. Masa muda Opik yang seharusnya dihabiskan untuk belajar dan bermain malah dihabiskan untuk bekerja dan mengurusi dirinya yang sakit.

“Inginya saya Opik bisa sekolah lagi, karena Opik tidak bisa membaca. Kalau sekolah minimal ada bekal untuk dia kelak,” imbuhnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

Memulai karir jurnalistik di BantenHits.com sejak 2016. Pria kelahiran Kabupaten Pandeglang ini memiliki kecenderungan terhadap aktivitas sosial dan lingkungan hidup.

Trending