Connect with us

OPINI

Gunung Luhur (lagi)

Published

on

Anggota DPRD Lebak Dian Wahyudi. (FOTO Dok. Pribadi).

BantenHits- Hujan sangat deras saat saya masuk kawasan wewengkon adat Citorek dimana Gunung Luhur kecamatan Cibeber, Lebak berada.

Sempat viral, yang kemudian kunjungan dibatasi karena sedang dibangun cor beton menuju destinasi wisata “Negeri di atas awan” ini.

Saya datang lewat kecamatan Sajira menuju ciminyak kecamatan Muncang kemudian ke kecamatan Sobang. Bahkan saya sempat pula mampir ke Leuweung (Hutan) Adat Desa Jagaraksa kecamatan Muncang, kondisinya cukup terawat dan tertata, dengan fasilitas yang cukup memadai, sayangnya tidak ada pengelola saat saya berkunjung, beruntung terdapat warung untuk sekedar ngopi pahit (hihi).

Sempat mampir di sentra gula semut Hariang milik bapak Anwar. Sayang beliau justru sedang ke Rangkasbitung menghadiri sebuah acara. Pabriknya juga sedang istirahat, menurut salah seorang stafnya, karena semalam habis lembur kejar orderan ke salah seorang pemesan dari Semarang.

Beruntung (lagi) saya disuguhi minuman Gula Kunyit oleh beliau, salah satu varian jenis minuman kemasan dari gula semut Hariang ini.

Kemudian saya melanjutkan perjalanan, secara umum, sejak dari Ciminyak, kondisi jalan tidak banyak berubah sejak terakhir saya melewati jalan ini beberapa tahun yang lalu, terdapat beberapa ruas jalan yang berlubang namun masih dapat dilalui dengan normal.

Namun, setelah Pasir Eurih berbelok ke arah kampung Selagunung, jalan yang dilalui cukup aduhai karena hotmix yang telah terkelupas, hanya meninggalkan batu pasang, sehingga laju kendaraan roda empat yang saya tumpangi melaju gugurujugan (bergoyang), padahal pemandangan persawahan dan gunungnya sangat mantap jiwa, damai.

BACA :  Destinasi Wisata, Mimpi dan Harapan

Selepas Desa Cikuning kecamatan Sobang, arah Citorek, jalan sudah dicor beton. Jalan menuju Gunung luhur, relatif lebih bagus, sebaiknya lewat kecamatan Cipanas terus ke kecamatan Lebakgedong.

Hujan turun sangat lebat… beruntung jalan cor beton sudah selesai sampai ke lokasi Gunung Luhur, sudah rapi dan cukup nyaman, hanya tetap berhati-hati, karena terdapat jalan menanjak, dan tikungan tajam.

Di gerbang selamat datang Citorek, terdapat jalan baru menuju ke atas bahu kanan jalan. Kabarnya terdapat destinasi wisata baru yang mirip “Negeri di atas awan”, kalau tidak salah namanya Gunung Kendeng, masih sedang di tata, jalannya juga masih tanah merah, saya tidak sempat turun dan bertanya, karena hujan sangat lebat.

Di kiri dan kanan jalan menuju Gunung Luhur mulai banyak berdiri bangunan, saya menerka, sepertinya nantinya akan menjadi semacam villa, “rest area” atau rumah makan. Tampaknya perekonomian di sini semakin menggeliat.

Sampai di Gunung luhur, hujan masih lebat. Sadar belum makan siang dan sholat dzuhur, saya menuju salah satu jajaran saung makan dan home stay yang berjajar rapi.

BACA :  Hegemoni Calon Tunggal dan Sepakbola Terjal

Saya beserta dua orang rekan, memesan makanan. Menunya sangu beureum ngebul (nasi merah masih panas), ikan asin japuh, ceplok telor ayam, beuleum peuteuy (pete bakar), dan minuman teh panas. Saya sampai nambah lagi… nambah lagi (hihi), mirasa jasa (sangat nikmat), menikmati hidangan makan, dengan di tingkahi hujan lebat di Gunung luhur. Harganya juga relatif murah, hanya 30 ribu. Alhamdulillah…

Menurut empunya saung yang kami datangi, nanti sebagian saung harus dibongkar lagi untuk mundur lagi, agar lokasi parkir menjadi lebih luas, “saya sudah empat kali mundur ini pak, kata pemilik saung”, sugan (semoga) gak mundur lagi, ja kami haliwu pindah sampe opat kali can balik modal (kami sibuk pindah sampai empat kali padahal belum balik modal).

Urusan kamar mandi dan toilet telah tersedia cukup memadai, saat ini terdapat pula toilet “portable” berjejer, kabarnya bantuan CSR dari salah satu perusahaan.

Selesai makan, sholat dzuhur dan ngopi, kami menuju “puncak”. Kami disambut penjaga loket.

Karena hanya kami bertiga yang saat itu menuju ke atas, saya iseng bercanda kepada petugas loket, yang jaga laki-laki. “Bayar baraha (berapa) pa ?”, tanya saya. “Lima rebu”, ujarnya. “Gratisnya ?. Saya sok (suka) nulis tentang Gunung luhur di koran nih”, canda saya. “Anggota Dewan nih”, susul kawan saya nego biar gratis. “Dewan naon (dewan apa) ? Lima rebu bae sa urang na ka (lima ribu saja satu orang nya)” ujar petugas. “Ha.. haha..”, saya ngakak nguley (tertawa sampai perut sakit), upaya masuk gratis tidak berhasil.

BACA :  Menggagas Festival Curug Lebak

Hujan gerimis, tangga kayu dan jalan tanah merah cukup membuat jalanan licin. Harus hati-hati. Panggung yang jika pengunjung sangat padat tampak kosong. Serasa milik bertiga… kabutnya tampak, hanya kurang bagus karena bukan kabut di pagi hari yang sangat indah. Karena masih hujan gerimis, kami tidak lama berada di atas, namun kami cukup terpuaskan.

Kami pamit kepada pemilik saung saat kami makan. Mereka menawarkan menginap. Karena masih ada keperluan kami tolak halus, namun kami sedikit berjanji lain kali akan kesini lagi, untuk menginap.

Di aku dulur (di aku sebagai saudara) oleh penduduk setempat, selalu saja membuat bahagia. Karena berwisata esensinya bukan sekedar mencari kesenangan semata, namun juga belajar kepada alam dan mencari paduluran (persaudaraan). Bersahabat dengan alam.

Semoga Gunung luhur semakin terus berkembang dan tertata dengan baik, untuk kita nikmati dan syukuri, tanpa harus merusak alam. Semoga, Aamiin.

Penulis: Dian Wahyudi Anggota Fraksi PKS DPRD Lebak.



Terpopuler

Please disable your adblock for read our content.
Refresh