Connect with us

OPINI

Pisang Sale Madu Bertahan ditengah Pandemi Covid-19

Published

on

Dian Wahyudi Ketua Generasi Muda (GEMA) Keadilan Lebak. (Istimewa)

BantenHits- Sudah sedari kecamatan Malingping hujan ngecrek lebat mengguyur sepanjang jalan menuju kecamatan Cilograng, Kabupaten Lebak.

Hari ini, saya akan bertemu pak Ubang, demikian beliau biasa dipanggil. Pak Ubang, adalah pengolah Pisang Sale di kawasan Kampung Simpang Ciawi jalan raya Sawarna Desa Gunung Batu, kecamatan Cilograng, kabupaten Lebak, sudah hampir memasuki ujung batas kabupaten Lebak dengan kabupaten Sukabumi.

Hujan masih lebat, saat saya sampai, dan pak Ubang tertawa sumringah saat saya dan dua orang yang ikut dalam kendaraan roda empat yang kami bawa, berloncatan menerobos lebatnya hujan.

“Kesini, ke dalam aja, diluar mah ceret (tampias air hujan)”, sambut pak Ubang.

Kami masuk ke ruangan sekira 3×4 meter, yang dindingnya sudah berwarna coklat dan gelap. Tapi tiba-tiba saja, saya berhenti memasuki ruangan tersebut, mata saya tetiba berair, disambut asap tipis pembakaran.

Ruangan tersebut adalah tempat produksi olahan dan pengasapan pisang sale milik pak Ubang. Setidaknya 5-7 rak tempat sale dilakukan pengasapan, kombinasi setelah dilakukan penjemuran juga dilakukan pengasapan, apalagi jika hampir tiap hari hujan lebat seperti saat saya datang, pengasapan menjadi lebih dominan.

BACA :  Pemuda Lebak dan Tantangan Pembangunan Otonomi Daerah Kabupaten Lebak

Menurut cerita pak Uban, beliau sudah memproduksi Pisang Sale ini setidaknya 10 tahun, wow. Sepekan bisa memproduksi 7 kwintal – 1 ton.

“Produksi tiap hari ini pak?,” Tanya saya polos.

“Iya, karena produksi pisang sale sampai dikemas itu, prosesnya itu paling cepat sepekan, dari mulai ngupas, penjemuran, pengasapan, dibolak-balik, ditukar-tukar rak, disesuaikan dengan ‘kematangan’ pisang sale,” jelas pak Ubang.

Selain beliau, pak Ubang juga dibantu oleh beberapa pekerja, melakukan pekerjaan pengupasan pisang, menjemur pisang dan lain-lain.

“Kalau dulu, sebelum pandemi Covid-19, setidaknya 4 – 5 orang yang bekerja di sini. Kalau sekarang disesuaikan aja, walaupun tiap hari produksi, dan pemasaran terus ada, namun tidak sebaik sebelum pandemi, yang penting lancar dan masih ngebul saja sudah uyuhan (sudah bagus),” kata pak Ubang.

BACA :  Program Pemberdayaan Masyarakat; Antara Solusi dan Lahan Korupsi (1)

Untuk harga pisang sale yang sudah dikemas, masih relatif terjangkau, baik untuk pasar lokal ataupun luar kabupaten Lebak.

“Pisang Sale, dikirim atau ada yang mengambil, biasanya di bawa ke kabupaten Sukabumi, Cianjur, ada juga yang ke Tangerang,” tambahnya.

Didamping rumah produksi Pisang Sale pak Ubang, ada pula beberapa rumah produksi lain, sampai ke Sawarna. Namun karena hujan semakin lebat, saya hanya bisa menemui pak Ubang ini.

Sambil menunggu Pisang Sale matang (sepekan lagi ya), ditingkahi air mata berlinang (haha) karena asap pembakaran pengasapan, saya sedikit bertanya terkait keluarga beliau.

“Anak saya 4 orang. 3 orang sudah berkeluarga, sudah punya cucu 5 orang. Alhamdulillah, untuk tingkat pendidikan anak-anak saya setidaknya dapat menyelesaikan pendidikan SMA,” cerita pak Ubang.

Di rumah produksi tersebut saya juga bertemu dengan kang Ahyar. Beliau merupakan bagian pemasaran putra dari pak Darman. Pisang Sale dari pak Ubang dan beberapa rumah produksi yang lain dikemas oleh kang Ahyar menggunakan merk pasaran Darga Jaya Putra, yang jika dibaca, yang tertera dalam kemasan, sudah memulai usaha Pisang Sale ini sejak tahun 1980.

BACA :  Jasmerah Bung Karno, Nasionalisme dan Generasi Muda

Saya berharap produksi dari rumah UMKM seperti pak Ubang ini masih terus eksis dan berkembang maju ditengah kondisi pandemi Covid-19 ini.

Regulasi terkait tata kelola Destinasi Wisata di kabupaten Lebak juga semoga dapat memberikan kepastian berbagai hal, utamanya terkait waktu kunjungan dan lain-lain.

Karena pemasaran UMKM Pisang Sale seperti milik pak Ubang ini, banyak mengandalkan bergairahnya kembali sektor Pariwisata, terutama di kawasan Pantai Sawarna. Pisang yang di tanam para petani dapat kembali laku dijual dan diolah oleh para pejuang UMKM.

Visi dan Misi Kabupaten Lebak yang menitik beratkan pada Sektor Pariwisata dan Potensi Lokal semoga terealisasi dengan baik, Aamiin. Bersama Kita Bangkit. Selamat Hari Jadi Lebak ke-193.

Penulis: Dian Wahyudi (Ketua Generasi Muda (GEMA) Keadilan Lebak)



Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Terpopuler