Connect with us

PERSONA

Yadi Umaryadi, Guru Honorer Perintis Gerakan Sedekah Gotong Royong

Published

on

 

Tak banyak yang bisa dilakukan seorang guru yang statusnya masih honorer. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, guru honorer harus memiliki penghasilan tambahan karena upah guru honorer masih jauh dari cukup.

Di tengah kondisi sulit itu, seorang guru honorer di Kabupaten Pandeglang, Yadi Umaryadi bergerak melampaui dirinya sendiri. Dia keluar dari belenggu keterbatasan, bahkan bukan hanya untuk dirinya sendiri. Dia menghimpun Sedekah Gotong Royong (SGR), sebuah organisasi di bawah Yayasan Antassalam yang concern membantu yatim piatu dan warga miskin yang tak tersentuh bantuan.

Yadi Umaryadi, tiggal Kampung Cidaiang, Kelurahan Saruni, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang. Dia sudah mengabdi  di dunia pendidikan sejak 2004 dan sempat mengajar di beberapa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Pandeglang, salah satunya di SMKN 1 Pandeglang. 

Kepada wartawan Banten Hits Saepulloh, Yadi Umaryadi menjelaskan di tengah kesibukannya mengajar, dia juga harus membuka bengkel komputer untuk memenuhi nafkah keluarganya.

“Sejak gerakan ini kami dirikan, kami sedikit demi sedikit mengumpulkan donasi untuk  pelajar-pelajar yatim yang tidak mampu, bisa berupa alat tulis, seragam, sepatu atau ongkos sekolah dan kaum dhuafa,” kata Yadi, Jumat (5/8/2016).

Untuk mengumpulkan donasi tersebut, kata Yadi, dia memanfaatkan media sosial dan website. Dia juga dibantu relawan yang dinamai Relawan Antar Jemput Sedekah (RAJS).

“Alhamdulillah, teman-teman relawan tidak berfikir seberapa keuntungan yang didapat, tetapi tetap berpikir seberapa besar memberikan manfaat kepada sesama. Semata-mata untuk ibadah,” terang ayah empat anak ini.

Lulusan Diploma Teknik Komputer dan Jaringan Untirta ini mengaku, kesulitan untuk mencari para dontur tetap karena minimnya sosialisasi kepada masyakat untuk ikut berpartisipasi menitipkan sedekahnya kepada Yayasan Antassalam.

Meski begitu, suami dari Wiwi Lianingsih ini memiliki cita-cita yang belum tercapai, yaitu mendirikan Rumah Bahagia Antassalam (RBA) untuk mengurus dan mendidik anak-anak yatim yang tidak mampu, serta merumahkan para lanju usia (lansia) dhuafa yang hidup sebatang kara.

“Kalau lahan untuk bangun rumah itu sudah ada, seluas 2.000 meter dari hibah seseorang di Jalan AMD Lintas Timur, Kampung Petir, Kelurahan Sukaratu, Pandeglang,” ungkap pria yang aktif juga di gerakan sosial Sedekah Rombongan (SR) sebagai Koordinator Kabupaten Pandeglang.

Menurut Yadi, di lingkungan RBA tersebut dia berharap berdiri juga Balai Pendidikan dan Latihan Keterampilan (BPLK) untuk memfasilitasi anak anak yatim yang tinggal  di rumah tersebut dan majelis taklim pengajian para lansia dari dalam maupu dari luar lingkungan RBA. 

Untuk mewujudkan cita cita tersebut, Yadi berharap dapat bersinergi dengan lembaga sejenisnya dan pemerintah setempat.(Rus)

 

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 − thirteen =

Trending