Connect with us

OPINI

Pentingnya Generasi Millenial

Published

on

Dian Wahyudi. (Istimewa)

Pentingnya Generasi Millenial; 

Sengaja hari tadi saya mengkosongkan jadwal kunjungan, yang sebelumnya terjadwal di pagi dan siang hari digeser ke sore hari.

Siang ini saya diminta sharing pengalaman dengan kakak-kakak ambalan dan alumni purbasari – kiansantang, tak banyak tapi cukup mewakili dua generasi.

Saya anggap penting, karena sudah diprediksi oleh banyak pakar, akan adanya bonus demografi generasi millenial. Sekali lagi penting, generasi saat inilah yang nanti akan merasakan. Tentunya, perlu pandangan dan harapan ke depan seperti apa dunia masa depan.

Kita sudah tidak dapat mengelak, perubahan adalah keharusan, yang penting kita selalu relevan, selalu bermanfaat, selalu dapat menyesuaikan diri dalam kondisi apapun, dimanapun, kapanpun.

Istilah generasi millennial memang sedang akrab terdengar. Mengutip Republika, Istilah tersebut berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya.

Millennial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini.

Namun, para pakar menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980 – 1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya.

Awal 2016 Ericsson mengeluarkan 10 Tren Consumer Lab untuk memprediksi beragam keinginan konsumen.

BACA :  Adiksi Gawai Dalam Bersosial Media

Laporan Ericsson lahir berdasarkan wawancara kepada 4.000 responden yang tersebar di 24 negara dunia. Dari 10 tren tersebut beberapa di antaranya, adalah adanya perhatian khusus terhadap perilaku generasi millennial.

Dalam laporan tersebut Ericsson mencatat, produk teknologi akan mengikuti gaya hidup masyarakat millennial.

Prediksi yang disampaikan Ericsson sebagian besar terbukti. Salah satunya, perilaku Streaming Native yang kini kian populer.

Jumlah remaja yang mengonsumsi layanan streaming video kian tak terbendung. Ericsson mencatat, hingga 2011 silam hanya ada sekitar tujuh persen remaja berusia 16 – 19 tahun yang menonton video melalui Youtube.

Rata-rata mereka menghabiskan waktu di depan layar perangkat mobile sekitar tiga jam sehari. Angka tersebut melambung empat tahun kemudian menjadi 20 persen.

Waktu yang dialokasikan untuk menonton streaming juga meningkat tiga kali lipat. Fakta tersebut membuktikan, perilaku generasi millennial sudah tak bisa dilepaskan dari menonton video secara daring.

Teknologi juga membuat para generasi internet tersebut mengandalkan media sosial sebagai tempat mendapatkan informasi. Saat ini, media sosial telah menjadi platform pelaporan dan sumber berita utama bagi masyarakat.

The Nielsen Global Survey of E-commerce juga melakukan penelitian terhadap pergeseran perilaku belanja para generasi internet. Penelitian dilakukan berdasar penetrasi internet di beberapa negara.

BACA :  Mahar Politik, Muasal Segala Sial

Nielsen melakukan riset terhadap 30 ribu responden yang memiliki akses internet memadai. Responden tersebut berasal dari 60 negara di Asia Pasifik, Eropa, Amerika Latin dan Utara, serta Timur Tengah.

Studi tersebut menggambarkan perilaku generasi akrab internet ini memilih jalur daring untuk membeli beragam produk atau jasa dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Nielsen mencatat, pertumbuhan penetrasi perangkat mobile di kota-kota besar Indonesia mencapai 88 persen.

Kepemilikan perangkat mobile menjadi salah satu faktor paling signifikan terhadap perilaku belanja daring. Berdasarkan riset Nielsen tersebut, Indonesia memiliki peringkat teratas secara global dalam hal penggunaan ponsel pintar untuk belanja daring.

Sebanyak 61 persen konsumen memilih berbelanja menggunakan ponsel pintar, dan 38 persen lainnya memilih tablet atau perangkat mobile lain. Sementara, 58 persen konsumen lebih memilih menggunakan komputer.

Kelebihan dan kekurangan teknologi, harus kita antisipasi, sisi positif teknologi kita ambil, sisi negatif atau sisi buruknya kita buang.

Hari-hari ini, perkembangan teknologi bukan hanya sangat bermanfaat, juga menjadi indikator bagi kita bagaimana kita bersikap dan bertindak, jejak digital kita terekam, apa yang kita lakukan memiliki konsekuensi dan efek di masa depan. Berhati-hatilah, sekali memiliki jejak harus hal yang bermanfaat.

Kadang kondisi harus kita ciptakan, seperti kondisi modern bisa jadi membuat kita seolah memiliki semua hal, namun disisi lain terdapat kekosongan rasa, sehingga perlu kiranya kita sesekali kembali ke alam, merenungi, bahkan jika perlu mengusahakan kembali kepada alam, menjajal trek alam, berkolaborasi dan bersinergi mereklamasi kerusakan habitat, agar kita terus bersyukur atas nikmat Allah SWT, tidak melulu dihadapkan oleh tekanan pekerjaan dan himpitan kehebatan teknologi. Modern boleh, namun ruang religius dan back to nature sepertinya harus kita pikirkan, sepertu de javu, hyking menyusuri sungai ataupun pematang sawah saat digembleng menjadi pramuka yang patriotik, ahaay…

BACA :  Peran Pemerintah yang Bersifat Struktural dan Kultural dalam Menjaga Kelestarian Kesenian dan Kebudayaan

Generasi millenial harus berdaya, saat nya mengenali karakter, bakat masing-masing, tentunya dengan banyak berlatih, berlatih menyampaikan gagasan dengan berbicara, menuangkan pikiran lewat tulisan, audiensi, membuat aplikasi dan konten kreatif. Alah bisa karena biasa, saya hapal betul pribahasa ini, sederhana namun memiliki makna mendalam.

Teknologi digunakan untuk memasarkan produk, mempromosikan destinasi wisata, memajukan dan pemberdayaan UKM pemuda dan perempuan, membantu terbentuknya Desa Berdaya, pengolahan limbah atau zero waste. Memanfaatkan teknologi modern melalui berbagai aplikasi tanpa melupakan alam, humanisme dan tetap religius.

Mumpung, bersinergi dengan siapa saja, sebagai investasi untuk masa depan. Belajar dan temukan bakat mu dari sekarang, untuk menjadi pemimpin di masa depan, invest for the future. Semoga.

Penulis : Dian Wahyudi Anggota DPRD PKS Kabupaten Lebak.



Terpopuler