Mengintip Tradisi Keramas Merang Warga Babakan Tangerang Setiap Menjelang Ramadhan

Date:

Ratusan warga Babakan Tangerang ketika mengikuti tradisi ritual Keramas Merang di Sungai Cisadane. (Hendra Wibisana/BantenHits).

Tangerang- Sabtu, 4 Mei 2019, ratusan warga Kampung Babakan, Kota Tangerang mulai memadati bantaran sungai Cisadane. Mereka berbondong-bondong mendatangi sungai yang kerap disebut Ci Gede untuk melaksanakan sebuah ritual rutin tahunan.

Keramas Merang merupakan ritual atau tradisi lokal warga Babakan yang sejak tahun 1990 rutin dilaksanakan di bantaran sungai Cisadane setiap kali menjelang bulan suci ramadhan.

Dalam ritual tersebut masyarakat akan melaksanakan keramas secara berjamaah atau massal menggunakan merang. Ritual yang diikuti oleh anak-anak, orang dewasa serta puluhan lansia itu sebagai tanda pembersihan diri menyambut datangnya Ramadhan.

Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah mengatakan, tradisi keramasan ini merupakan acara yang tiap tahun diadakan untuk menjaga budaya Kota Tangerang agar tidak punah

“Saya ucapkan terimakasih kepada para tokoh untuk memperkenalkan tradisi ini kepada anak-anaknya agar budaya ini menjadi bagian dari budaya Kota Tangerang dan berharap tidak punah dan juga mereka harus menjaga Sungai Cisadane,”kata Arief.

Selain menjaga kebudayaan, Arief menjelaskan, acara ini pun bertujuan untuk menjaga tali silaturahmi antara warga Tangerang. 

“Ritual siraman itu tidak hanya dimaksudkan untuk membersihkan badan dan mempererat tali silaturahmi, tetapi juga disimbolkan untuk membersihkan hati,”jelasnya.

Sementara warga kampung Babakan, Indah (36) mengaku ritual mandi di sungai Cisadane sudah dilakukan sejak dia masih anak-anak. Dari kondisi air di sungai Cisadane sangat jernih dan bersih, hingga keruh dan banyak sampah.

“Dulu air di Cisadane bersih enggak ada sampah. Tapi tetap menjalankannya karena ini sudah seperti tradisi bagi kami,”kata Indah.

Indah menuturkan, ritual ini berawal dari kebiasaan warga yang melakukan keramas dengan menggunakan merang. Merang adalah bekas tangkai padi yang telah diolah sedemikian rupa, digunakan warga di zaman itu sebelum mengenal adanya sampo.

Mandi Merang merupakan salah satu bentuk tradisi masyarakat Betawi. Dimana batang padi itu dibakar lalu direndam. Selanjutnya, dioleskan ke seluruh tubuh lalu dibilas dengan air. Saat itu, merang menjadi pengganti sampo dan sabun.

“Dulu tidak kenal sampo, orang tua kami pakai merang buat keramas, tapi sekarang sudah dicampur, ada yang pakai sampo ditambah merang. Soalnya, merang ini susah dicari,” jelasnya.

Masyarakat yang masih melakukan tradisi ini menganggap kegiatan keramas bersifat wajib. Jika membersihkan diri sebelum Ramadan, mereka percaya ibadah akan menjadi lebih khusyuk.

Selain mandi keramas, sejumlah warga juga memainkan berbagai alat musik sebagai pertanda datangnya bulan suci Ramadhan.

Editor: Fariz Abdullah

Author

Terpopuler

Share post:

Berita Lainnya
Related

Mau Cantik tapi Tetap Syar’i? Mulailah Koleksi Karya-karya Dwi Hapsari Ini!

Berita Tangerang - Bisa terlihat cantik dan syar'i merupakan...

15 Kedai Lokal Siap Unjuk Gigi di Festival Kopi Kabupaten Lebak 14-18 Desember 2022

Berita Lebak - Lebak Ekonomi Kreatif (Leekraf) menggelar festival...

Pakai Trail Kuning, Ini Aksi Eksentrik Sachrudin ‘Nyoride’ bareng Penghobi Motor di Kota Tangerang

Tangerang - Wakil Wali Kota Tangerang, Sachrudin berkesempatan turun...

Restoran Dinasty Berganti Nama Star Kitchen Celcius; Tak Ada Alkohol, yang Ada Makan Sepuasnya!

Cilegon - Restoran Dynasty yang berlokasi di Jalan Sultan...