Connect with us

METROPOLITAN

Bahaya! 26 Persen Pelajar di Banten Terpapar Narkoba

Published

on

Kepala BNN Provinsi Banten Brigjen Pol. Tantan Sulistyana (kanan) bersama Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah (tengah) saat Peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) Tingkat Kabupaten Serang di Lapangan Kantor Kecamatan Petir, Rabu, 26 Juni 2019. BNN Provinsi Banten mengungkap 26 persen pelajar di Banten terpapar narkoba. (BantenHits.com/ Nurmansyah Iman)

Serang – Peredaran narkoba di Provinsi Banten semakin memprihatinkan. Badan Narkotika Nasional atau BNN Provinsi Banten mencatat, 23-26 persen pelajar di Provinsi Banten telah terpapar narkoba.

Hal tersebut diungkapkan Kepala BNN Provinsi Banten Brigjen Pol. Tantan Sulistyana seusai Peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) Tingkat Kabupaten Serang di Lapangan Kantor Kecamatan Petir, Rabu, 26 Juni 2019.

Persentase pelajar pengguna narkoba diketahui dari hasil evaluasi yang dilakukan BNN Provinsi Banten berdasarkan data pengguna narkoba yang mengikuti program rehabilitasi dan assessment medis atau assessment terpadu yang diungkap oleh kepolisian.

“Dari hasil evaluasi dapat kita lihat bahwa untuk pekerjaan untuk tingkat pelajar dan mahasiswa sekitar 20 sampai 26 persen dia ada di rens itu. Jadi kalau pelajar berada di umur 12-17 kalau mahasiswa berada 17- 22  di umur segitulah,” ungkap Tantan.

Data pengguna yang mengikuti rehabilitasi tersebut, lanjutnya, selaras dengan hasil survei 2017 yang dilakukan BNN dengan Puslitkes UI, dimana diketahui 23 persen kelompok pengguna narkoba berasal dari kalangan pelajar.

Setiap Minggu Ditemukan Kasus Narkoba

Tantan mengungkapkan, berdasarkan evaluasi 2018, setiap minggu terjadi kasus narkoba di Banten. Hal tersebut dilihat dari 50 kasus narkoba yang berhasil diungkap selama setahun di jajaran polres.

“Berdasarkan hasil evaluasi tahun 2018 ada sekitar 50 kasus diungkap oleh polres jajaran. Jadi dilihat dari evaluasi tersebut, dalam satu tahun itu kan ada 52 minggu. Jadi, hampir setiap minggu ada kasus yang berkaitan dengan narkotika. Ini menjadi keprihatinan bagi kita semua tentunya,” ungkapnya.

Jalur Sumatera

Disinggung soal jalur edar narkotika di Banten, Tantan membeberkan, peredaran barang haram yang masuk ke Banten masih berasal dari jalur yang sama, yakni Pulau Sumatera.

Menurut Tantan, Provinsi Banten sendiri saat ini bukan hanya sebagai tempat perlintasan dan tempat edar tapi juga sebagai tempat produksi.

“Jalur penyebaran tetap (melalui Sumatera). Ada jalur penyebaran  ganja, ada jalur penyebaran sabu. Kita lihat kan kalau jalur penyebaran sabu dari luar negeri melalui Sumatera masuk ke wilayah kita (Banten). Sedangkan ganja juga sama dari Sumatera ke wilayah kita. Kkta merupakan wilayah setrategis. Bukan hanya sebagai tempat edar dan lintasan saja, tapi sudah termasuk tempat transit juga produksi karena beberapa kejadian pernah diungkap di wilayah kita ada semua,” tutupnya.

Editor: Darussalam Jagad Syahdana

Trending