Connect with us

OPINI

Gita Surosowan dan Prestasi Orang Banten

Published

on

Pengalaman Menyebalkan

Apa kesan orang luar Banten terhadap Anda ketika mereka mengenal Anda berasal dari Banten? Pada diri penulis, entah karena berwajah seram atau karena bertampang menyebalkan, orang dari belahan Nusantara lain umumnya bicara soal kekerasan, golok, teluh, atau korupsi menjadi identik dengan Banten.

 

Pernah suatu ketika, penulis berkenalan dengan mantan Putri Pariwisata Jambi. Wajahnya cantik, imut-imut dan menggoda. Di luar dugaan, di balik kecantikannya, dia menegaskan penulis sebagai warga yang tidak berdaya melawan kekuatan partai politik dalam menentukan pemimpin di Banten.

“Ooh, yang gubernurnya korup itu ya? Berjilbab lagi,” ujarnya.

Pada lain kesempatan, penulis bekerja pada hospitality industry di Sumatera Barat. Entah apa motifnya, penulis yang belum lama bekerja di tempat itu, mendapatkan pertanyaan yang menggelitik dari seorang rekan kerja.

“Maaf ya, kamu punya susuk ya?  Orang Banten kalau merantau pasti pake begituan,” tudingnya.

Sementara ketika menginjakan kaki di negara paling vibran di Timur Tengah, Negara yang disebut sebut Las Vegas of Middle East penulis mendapatkan pernyataan yang tidak kalah menyebalkannya.  Imigran asal Indonesia punya kebiasaan berkumpul pada hari libur kerja, saling mengundang untuk berpesta makan yang diawali dengan ritual belanja dan memasak bersama. Saat itu, jemari tergores pisau.

“Katanya orang Banten, masa masih tergores?” cibirnya.

Manusia Banten yang Berjaya

Dari pengalaman-pengalaman tersebut, timbul pertanyaan-pertanyaan dalam diri; apakah benar hanya itu yang menunjukan identitas kita sebagai orang Banten? Pada era millennium ini?

Penulis menenggelamkan diri dalam teks-teks sejarah, mencari tahu apa hebatnya menjadi orang  Banten dan tentu saja mencari alasan untuk bangga dilahirkan dari rahim seorang ibu berdarah Serang dan ayah berdarah Pandeglang. Sebuah kelahiran di Jalan Jendral Ahmad Yani Kota Serang, di rumah sakit tentara modern yang bernama Tentara Nasional Indonesia.

Sebagai putra Banten yang lahir di rumah sakit tentara, penulis terkesan dengan cerita yang didapat dari Sejarawan Abah Yadi Ahyadi tentang 5.000 tentara Kesultanan Banten yang dipimpin oleh Raden Senopati Ingalaga pada tahun 1650. 

BACA :  Recovery Pasca Pandemi; Membangun Optimisme Kolektif 

Sultan Ageng Tirtayasa yang ke VI dari Benteng Surosowan, memerintahkan agar pasukan yang dipimpin oleh Raden Senopati Ingalaga untuk tidak mundur selangkahpun dalam bertempur. Tentara Belanda yang mencapai 20.000 personel dan bersenjata lengkap, tumpas oleh tentara Banten bersenjata tradisional. 

Pangeran Ingalaga memerintahkan metode perang dadali, yaitu taktik menyerang dari segala penjuru untuk melumpuhkan Belanda yang menggunakan taktik perang papak, yaitu menyerang dari belakang.

Sementara sebagai orang Banten yang mencintai negeri ini, penulis terkesan dengan cerita-cerita tokoh Banten seperti ayahanda Embay Mulya Syarief dan almarhum Prof. Yoyo Mulyana yang mengatakan, pejuang-pejuang Banten yang dibuang oleh Belanda ke tempat-tempat lain di Nusantara, telah menjadi manusia-manusia yang mengobarkan semangat perlawanan terhadap kolonialisme Belanda hingga akhirnya Nusantara dinamai Indonesia oleh para pendiri Bangsa.

Ada Haji Akib yang dibuang ke Banda, Haji Haris yang dibuang ke Bukittinggi, Haji Arsyad Thawil yang dibuang ke Minahasa Manado, Haji Arsyad Qasyir dibuang ke Buton, Haji Ismail dibuang ke Flores, dan masih banyak lagi yang lainnya yang dibuang ke Tondano, Ternante, Kupang, Manado, Ambon, dan Saparua. Artinya, orang Banten menjadi role model, menjadi manusia-manusia yang dicontoh dalam kehidupan umat manusia, terutama manusia Indonesia.

Jangan menyebut diri orang Banten jika tidak mengenal siapa itu Syeikh Nawawi Al-Bantani (1815-1897 M), guru dari KH Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdhatul Ulama) dan KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah). Ulama kelahiran Tanara yang dijuluki Bapak Kitab Kuning Indonesia itu, karena ke-ulama-annyalah Mesir menjadi Negara pertama di dunia yang mengakui kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Dan karena reputasi itulah pemerintahan Belanda mengutus Snouck Hourgronje yang menyamar sebagai orang Arab dengan nama Abdul Ghafur, untuk menemui dan melemahkan pengaruh beliau. Namun akirnya orientalis Belanda itu berkesimpulan bahwa beliau mempunyai pemahaman agama yang mendalam, bahkan digelari doctor ketuhanan, rendah hati, tidak congkak, dan rasa nasionalisme yang tinggi.

BACA :  Pilgub Banten: Membaca Jalan ke MK

Apa yang dapat kita banggakan hari ini?

Raden Senopati Ingalaga dan Syeikh Nawawi Al-Bantani adalah sedikit dari manusia-manusia Banten yang dapat dijadikan alasan bagi kita untuk bangga dilahirkan di Banten, minum tirta Banten, dan dibesarkan dari hasil bumi Banten. Namun, mereka adalah manusia-manusia masa lalu, pada zaman yang jauh ke belakang, sementara kita hidup hari ini.

Menurut pendapat para tokoh Banten yang tertuang dalam Buku “Apa dan Siapa Orang Banten, Pandangan Hidup, Kosmologi dan Budaya,” yang disebut dengan orang Banten ada tiga macam; Pertama, mereka yang dilahirkan dari rahim keluarga Banten. Kedua, mereka tidak lahir dari rahim keluarga Banten namun dilahirkan di tanah Banten. Ketiga, mereka yang tidak lahir dari rahim keluarga Banten tidak juga dilahirkan di Banten, namun memiliki kecintaan dan melakukan pengorbanan-pengorbanan untuk kejayaan Banten.

Kepada semua orang yang mengaku orang Banten, penulis ingin bertanya; apa yang dapat kita banggakan sebagai orang Banten? Sampah yang berserakan di kawasan Banten Lama? Atau kondisi jalanan yang hancur dan berdebu barangkali?

Bicara soal apa yang dapat kita banggakan hari ini, ada sekelompok anak muda Banten, yang terdiri dari anak ingusan yang masih menempuh sekolah lanjutan tingkat pertama, sampai dengan perguruan tinggi, yang  dipimpin oleh Haridoyo Sugianto, lelaki kelahiran Pekanbaru yang telah berjuang untuk sesuatu yang dapat kita banggakan.

Gita Surosowan, group Marching Band Banten yang telah mengibarkan Merah Putih di Belanda, Malaysia, Thailand, dan di Amerika Serikat baru-baru ini yang berhasil menyabet medali perak dalam Drum Corp International; International Class World Championship di Michigan City, diminta Istana Negara untuk bermain dalam seremoni Gelar Senja, salah satu rangkaian dalam penurunan Merah Putih dalam rangka HUT Republik Indonesia. Padahal, bukan perkara mudah untuk dapat bermain di sana.

BACA :  Dengan Semangat Baru Pemimpinan yang Baru, Pariwisata di Lebak Harus Maju

Tidak berhenti di sana, dari pembicaraan penulis dengan Haridoyo sepulang dari Amerika, DCI (Drum Corp International) memberi syarat kepada negara-negara asia untuk berkompetisi di Banten untuk medapatkan tiket berkompetisi dalam kiblat Marching Band seluruh dunia di Amerika. Artinya, setiap group yang menginginkan untuk berkompetisi dalam ajang yang diimpikan setiap insan marching band di seluruh belahan bumi, jika berasal dari negeri asia, harus menginjakan kaki di Banten. Banten akan disibukan dengan tamu-tamu dari propinsi dan negara-negara lain. Image Banten tentang koruptor, teluh, dan golok, dilibas oleh alunan “Sound of Gita Surosowan”.

Harga yang Harus Dibayar Pemerintah Banten

Prestasi prestasi tersebut hanya segelintir dampak memelihara dan mendukung kerja keras dan semangat anak muda Banten. Namun, suksesnya Gita Surosowan, tidak serta merta mendapatkan sanjungan dan pujian dari orang Banten. Pasalnya, anggaran yang digelontorkan dinilai terlalu besar, dan tidak sebanding dengan anggaran untuk pembangunan rumah warga miskin, atau bahkan tidak sebanding dengan anggaran pembinaan bagi bidang pengembangan lainnya.

Layak tidaknya, penulis tidak bias memutuskan karena perlu dilakukan kajian secara menyeluruh mengenai prioritas kemana gelontoran dana yang berasal dari uang rakyat itu mengalir. Yang jelas, jika memang ada korupsi dalam pengelolaan dana pembinaan, seharusnya Gita Surosowan tidak menjadi korban karena apa yang sudah diraih telah membuka mata insan marching band seluruh nusantara, belum lagi memperhitungkan manfaat yang akan diterima ketika DCI diselenggarakan di Banten.

Gita Surosowan, adalah bagian dari kebudayaan Banten hari ini, dan meminjam pendapat Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banten Ali Fadhilah; Kebudayaan adalah sesuatu yang mau tidak mau suka tidak suka harus selalu dibiayai meski tidak berdampak langsung terhadap perekonomian daerah, karena kebudayaan adalah tentang pembangunan manusia yang mahal harganya…

 

Penulis: Dian Sucitra, jurnalis di situs berita Banten Hits. Tinggal di Serang…

 



Terpopuler